Menyikapi kehidupan yang begitu kompleks, setiap orang rela melakukan apapun demi mengikuti kemana alur kehidupan itu berjalan. Semakin hari dunia ini semakin penuh sesak, seolah tidak ada ruang lagi untuk kita berkesempatan merenung. Setiap manusia dipacu untuk cepat bergerak dalam meraih apa yang menjadi keinginan hakiki sebuah kehidupan. Mungkin dahulu orang sering bilang berlaku hukum rimba, dimana yang kuat melahap yang lemah. Namun dijaman sekarang bukan hanya yang kuat melahap yang lemah, tapi juga yang cepat melahap yang lambat. Dalam era persaingan global seperti saat ini, ruang hidup sudah semakin melebur. Dulu orang mengagungkan nasionalisme, sehingga rela berada dalam penjara yang dibuat sendiri. Namun sekarang ruang itu sudah tanpa batas, sehingga ruang interaksi sudah tidak terbatas lagi. Kemampuan untuk gaul secara global senang tidak senang dijaman sekarang adalah keharusan, dimana setiap kita tidak mau dikatakan sebagai manusia kampungan yang tidak gaul. Dengan tuntutan kehidupan yang seperti itu, maka tidak heran di setiap pusat pendidikan yang menunjang untuk itu begitu bejubel, dari mulai pusat pelatihan bahasa, kemampuan skill teknologi, budaya, dan lain sebagainya. Semuanya menjajikan keberhasilan untuk menghadapi tantangan kehidupan global. Begitu antusias sekali setiap individu, demi meningkatkan kemampuan diri mereka dalam menghadapi persaingan hidup global.
Kenyataan dunia bulat ditepis Thomas Friedman dengan menyatakan dunia itu datar. Setiap manusia bisa saling bebas berkomunikasi dengan media digital, kekuatan internet dalam membangun jejaring sosial di dunia maya sudah begitu canggih. Inilah salah satu yang menyebabkan dunia menjadi sangat datar begitu tegasnya. Nasionalisme semakin melebur, pemain sepakbola tidak harus seorang warga negara asli untuk membela timnas sebuah negara.Persaingan hidup yang semakin kompleks dan semakin menarik seperti ini memicu kita untuk menjadi pribadi yang tahan banting untuk menjalaninya.
Setiap orang punya kesempatan yang sama untuk ikut berpartisipasi dalam pergaulan global. Bukan hal yang mustahil seorang fans Paris Hilton yang berada di gunung kidul bisa berkomunikasi digital dengan fans yang berada di belahan bumi lain, bahkan terlibat diskusi dengan idolanya sekalipun. Kekuatan media internet begitu luar biasa dalam mendatarkan dunia. Pola kerja outsourcing dari setiap belahan dunia membaur tanpa sekat ke seluruh pelosok dunia. Ada kawan yang tinggal di pedesaan kumuh tapi mengerjakan project dari negara-negara maju, dan tidak pernah bertatap muka sekalipun.
Begitu mudah orang mendapat nilai kebaikan dijaman sekarang ini, dan begitu juga dengan nilai keburukan. Tayangan TV yang diliat di metropolitan, sama dengan tayangan yg diliat di pelosok desa. Pola kehidupan yang terpaksa masuk tanpa sekat menimbulkan gejala sosial yang signifikan. Cara berpakaian orang desa sudah seperti orang kota, terlepas pantas ato tidak pantas.Cara bicara orang desa tidak jauh dengan cara bicara orang metropolitan. Gejala seperti ini tidak bisa kita hindari. Setiap penciptaan mampu menimbulkan dua sisi negatif positif. Kebijaksanaan kita dalam memilih sangat diperlukan. Adanya kesadaran dalam diri sangat mempengaruhi nilai mana yang bakal kita pilih.Namun ada yang membuat saya sedih, kenapa perkembangan ekonomi tidak mengalami percepatan yang seimbang antara di desa dan kota di negeri ini, sedangkan nilai kebutuhan yang harus dikeluarkan nyaris tidak berbeda dengan kehidupan perkotaan. Harga beras 6rb per kilo bisa menjadi persoalan logika yang biasa ketika seorang penduduk perkotaan mendapat penghasilan min.50rb per hari. Namun akan sangat berfikir keras ketika melihat pendapatan rata-rata penduduk pedesaan tidak lebih dari 10rb per hari harus membeli beras 6rb per kilo dengan biaya tanggungan lebih dari 4 org anggota keluarga.
Cepat atau Lambat Silahkan Memilih
Antara Amal Shalih dan Kewajiban
Sebagai umat beragama, kita tentu mengarahkan jalan kehidupan kita sesuai dengan ajaran agama yang kita anut. Kita juga sudah sangat sadar dengan kondisi apabila seseorang mengingkari sebagian atau keseluruhan ajaran agama maka konsekuensi pembelot siap disandangnya. Setiap agama hampir sebagian besar mengajarkan kebaikan, dan menjanjikan kebaikan apapun agamanya. Pada dasarnya setiap manusia juga senang dengan kebaikan, meskipun dia seorang penjahat sekalipun. Tidak ada penjahat yang senang dengan anak buah yang tidak jujur tentunya. Namun ekspresi kekecewaan atas kehidupan seseorang memilih untuk menentang kebaikan dari tuhan.
Membicarakan sebuah kebaikan (amal sholeh) dengan sebuah kewajiban menarik untuk kita renungkan. Kadang kita merasa telah beramal sholeh kepada seseorang padahal apa yang kita lakukan adalah sebuah kewajiban yang mesti kita tunaikan terkait dengan aturan yang telah digariskan agama. Kita tentu sangat sadar apabila kita tidak melakukan sebuah kewajiban dalam kehidupan beragama adalah dosa hukumnya. Namun ada rasa GR dalam diri ini ketika melakukan suatu kebaikan yang nyata-nyata wajib hukumnya, seolah merasa diri lebih soleh daripada yang lain. Ketika ada tetangga sedang dalam kesulitan ekonomi, lalu kita datang menolongnya, dengan tidak sengaja dalam hati merasa bahwa kita telah berbuat baik pada orang, padahal itu merupakan sebuah kewajiban yang diatur dalam agama, yang barang tentu apabila kita tidak melakukanya padahal mampu akan jadi berdosa.
Banyak sekali orang pandai mencaci maki dan menghujat tanpa mampu memberikan solusi. Banyak di kalangan kita tampil sebagai malaikat yang suci dari dosa, mencaci maki pelacur dengan hadiah neraka. Banyak dikalangan kita senang menganalisa dan mencerca para tuna wisma dan anak jalanan sebagai kalangan yang malas bekerja. Semua hidup ingin yang terbaik tentunya, tidak ada yang ingin dilahirkan menjadi seorang pelacur, gepeng, perompak, dan tek-tek bengek kejahilan lainnya. Hanya pilihan yang menentukan, atau sebuah kekacauan sistem yang melahirkan keadaan. Bersyukur kita dilahirkan dengan keadaan yang terbaik, terhormat, bahkan mungkin lebih berkelas. Anda punya selera yang lebih baik, dan punya etika lebih terhormat bersyukurlah. Kesempatan Anda dan mungkin saya lebih banyak untuk melakukan amal shalih dan kewajiban pergunakanlah!
