Setan vs Malaikat

Melihat budi baik seseorang, kita sering terlena menilai dirinya secara keseluruhan. Tidak sedikit orang yang kelihatan baik, ternyata punya segudang masalah dibelakangnya. Banyak orang berpenampilan alim, tapi sisi kesetanannya lebih menonjol daripada kita yang nyata-nyata tidak kelihatan baik. Kadang merasa heran melihat tingkah laku orang yang berbuat dosa secara terang-terangan dan dilakukan dengan tertawa senang hati, di banding dengan saya yang masih malu-malu. Kadang juga sering memuji keberanian orang berbuat dosa yang jelas nyata dihujat publik, tapi dengan bangga dia melakukannya. Ketidak sempurnaan seorang manusia disini jelas terlihat, dimana sisi kemalaikatan dan kesetanannya saling ingin menonjolkan diri.

Kita sering terjebak dengan penampilan, apalagi kita menyadari kultur lokal kita sangat visual sekali menilai orang. Makanya kita sering menghakimi orang terlalu dini. Baru ketemu sekali, dengan alasan ada tatonya kita sebut preman yang boro-boro sholat mandipun jarang kayaknya:P. Tapi pertemuan berikutnya ktemu di mesjid bareng sholat berjamaah, kontan ungkapan kita berubah jadi pujian yang kadang berlebihan. Orang sering mengatakan katanya untuk memahami kepribadian seseorang perlu waktu lama untuk mengenalnya, bahkan dengan pasangan hidup sekalipun (istri/suami) yang jelas-jelas ditiduri tiap hari :D, perlu bertahun-tahun untuk mengenal kepribadian yang sebenarnya. Namun begitulah kita sering menghakimi terlalu dini kepada orang-orang disekitar kita. Dengan alasan politik-lah, hukum-lah, kebijakan-lah, kepercayaan-lah, dan lah-lah-lah yang lain :P.

Menyadari sisi positif negatif dalam diri kita memang bukan hal yang mudah, karena dalam tatanan kehidupan kita dituntut untuk selalu menjadi malaikat. Makanya ada pepatah panas setahun lunas dengan hujan satu hari, ato karena nila setitik rusak susu sebelanga. Maka jangan heran klo selama ini kita memanggil "ustadz" kemudian besok kita panggil "bangsat" akibat kesalahan yang hanya dibuat sekali saja. Melihat sebuah sisi baik sepertinya sulit bagi kita, namun tidak terlihat sekalipun yang namanya keburukan berusaha kita ciptakan. Semakin hari usia semakin bertambah, semakin dekat dengan kematian. Kita sepakat yang seharusnya terjadi ketika kita semakin dekat dengan kematian seharusnya kita semakin bijaksana. Emmm...sepertinya mulai saat ini jangan terlalu banyak menghakimi, tapi mungkin lebih banyak mempertanyakan alasan. Setiap orang punya kebebasan bertindak yang dibatasi kebebasan orang sekitarnya, mempertanyakan alasan setiap perbuatan sepertinya lebih bijaksana dari hanya sekedar menghakimi. Tidak semua orang ekstrovert, banyak yang introvert. Tidak semua berteriak lantang banyak yang malas bicara...tanyakan alasannya kenapa?

Posted at di 7:36 PM on Tuesday, March 17, 2009 by Diposting oleh Heri Sandi | 0 komentar   | Filed under:

Baik vs Buruk

Setiap manusia pada dasarnya dalam kehidupan selalu dituntut untuk mengambil sebuah keputusan setiap waktunya. Membuat sebuah pilihan dalam hidup, terkadang tidak serta merta menjadi perbuatan yang begitu mudah untuk dilakukan setiap manusia. Setiap kita bebas menentukan sebuah pilihan dalam hidup. Yang baik dan yang buruk dengan bebas bisa kita pilih menurut selera kita masing-masing. Setiap manusia adalah unik, peribahasa mengatakan setiap kepala boleh sama hitam rambutnya, namun buah fikiran setiap kepala jelas pasti berbeda.

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, kita sering dilibatkan dalam sebuah kompetisi berebut kursi kepemimpinan. Menentukan seseorang menjadi posisi yang kita inginkan, yang tentu daripadanya kita menaruh harapan. Walaupun terkadang kita sangat berlebihan dalam melakukannya. Semuanya tentu berpulang kepada keadaan dimana kita harus menentukan pilihan, apakah baik buruk, amanah tidak amanah, cantik tidak cantik, atau berwibawa tidak berwibawa. Semuanya mempunyai persepsi yang berbeda dalam menentukan pilihan ini.

Membedakan antara yang menurut kita buruk atau baik, bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Banyak tantangan yang mesti kita lewati sebelum menentukan konklusi. Apakan itu menyangkut keuntungan yang kita peroleh secara pribadi, atau keuntungan lain yang setidaknya mampu membuat sebuah keadaan menjadi lebih baik. Kenyataan ini memang hal yang wajar, ketika kita menetukan pilihan tentu ada keuntungan yang ingin kita peroleh setelah kita menetukan pilihan itu, baik sedikit maupun banyak. Jarang diantar kita berharap sesuatu yang buruk dari keputusan yang diambilnya, semuanya ingin memperoleh nilai positif.

Dalam masa sekarang dimana teknologi informasi yang berkembang begitu pesat, kita sering terombang ambing dengan sebuah pernyataan. Dimana beragam kepentingan yang begitu dominan dari belakang setiap informasi yang kita peroleh. Setiap kita yang berjiwa optimis tentu sulit menghindar dari keadaan ini, dimana kita mau tidak mau harus menjadi bagian dari keadaan itu. Sebuah informasi yang salah menurut para pakar media ketika dibombardir secara terus menerus, maka akan berubah menjadi suatu informasi yang dianggap benar, dan begitupun sebaliknya. Kita mungkin sedikit tersadar dengan keadaan ini, sebagaimana ketika kita melakukan perbuatan dosa yang kita lakukan berulang kali, akan berubah menjadi sesuatu yang dianggap biasa, bahkan lebih parah lagi menjadi sesuatu yang kita anggap tidak berdosa sama sekali.

Dimasa sekarang banyak diantara kita yang mengidolakan seorang figur yang menurut pribadinya bisa merepresentasikan dirinya. Baik secara fisik, pemikiran, perinsip, dan lain sebagainya. Ketika seorang pribadi mengidolakan seseorang, dia cenderung dominan lebih melihat sebuah sisi dimana pribadinya merasa terwakili, baik secara fisik maupun psikologis. Sehingga apa yang dinamakan bahasa spiritual sebagai taklid buta sering terjadi. Seseorang akan berusaha menempatkan idolanya dalam posisi terbaik, bahkan tidaksegan-segan menutup mata dan telinganya untuk tidak mendengar dan melihat keburukan dalam diri idolanya. Persetan dengan ungkapan orang lain idolaku tetap yang terbaik segalanya.

Fenomena ini bukan hal yang aneh dijaman sekarang ketika setiap manusia berusaha mencari sosok nyata untuk menaruh harapan yang bisa di idolakan. Banyak sekali terjadi dimana secara sosial dan spiritual seseorang dianggap sebagai biang kerok, namun disisi yang lain dia menjadi seseorang yang dielu-elukan oleh sekian ribu orang sebagai pahlawan yang patut diberi penghargaan. Disisi yang lain sebaliknya yang secara sosial spritual dianggap sebagai seseorang yang dianggap baik, namun karena aku tidak menyukainya, aku bersumpah untuk membencinya seumur hidupku. Disebuah negara yang baik katanya seorang yang salah harus dihukum, namun di sebuah negara yang dzalim maka seseorang yang benar yang harus dihukum. Kejadian ini bukan semata hanya sebuah wacana namun nyata terjadi di sekitar kita. Ada sebuah kelompok yang berusaha mati-matian membela seseorang tokoh yang dianggap idolanya untuk menempatkannya ke posisi yang terbaik dan terhormat.

Mugkinkah dari beragam fenomena ini kita memang sangat merindukan seorang pahlawan yang mampu merepresentasikan diri kita? katanya jika memang ini terjadi, begitu sangat menyedihkan sekali diri kita ini. Sehingga kita berusaha melahirkan pahlawan-pahlawan yang menurut kita layak. Taklid buta, atau sekedar ikut-ikutan, atau hanya terpesona penampilan fisiknya semata menjadi sebuah alasan untuk menentukan pilihan bahwa dia layak jadi pahlawan dan idolaku. Yang lebih parah lagi banyak individu yang berasa layak menjadi pahlawan, sehingga tidak segan-segan mengangkat dirinya sendiri sebagai pahlawan yang barang tentu sudah kesiangan. Sungguh menyedihkan keadaan ini, yang baik dan yang buruk sudah membaur dan sulit dibedakan. Persepsi kita menjadi kacau balau dengan gempuran beragam informasi yang begitu luar biasa. Banyak orang menangis dan tertawa tanpa kesadaran penuh, semuanya menjadi sangat klise. Seremonial menjadi sesuatu yang sakral, sebaliknya yang sakral dan esensial malah menjadi sesuatu hal yang banal......

Posted at di 7:33 PM on by Diposting oleh Heri Sandi | 0 komentar   | Filed under:

Mimpi Siapa Takut?

Belakangan ini sering di gempur mimpi-mimpi terbang keangkasa luas, dengan bebas layaknya Peterpan sang tokoh kartun kesenanganku. Wah, asyik sekali, bisa loncat-loncat di atas awan, saling berkejaran melempar gumpalan awan, bercanda, tertawa, dsb.Gambaran kesenangan itu begitu melekat di angan-angan ini hehehe....wah mimpi terus, kapan bertindaknya yah? terus apa mungkin suatu saat bisa terbang mirip si Peterpan yah? emmm...kalau misalkan aku punya sayap, terus sayapnya terpatah satu, masih bisa nggak yah untuk terbang bebas...jadi teringat sebuah tulisan, katanya banyak sekali orang-orang yang melampui batas asal-usulnya, dengan terlebih dahulu harus melewati masa-masa yang begitu sangat-sangat-sangat-sangat sulit :D.

Menempuh hidup yang baik itu tidak selalu harus menjadi pahlawan. Namun malahan bisa menempuhnya justru menjadi seorang yang tertindas. Setiap orang berharap untuk menjadi yang terbaik dalam hidupnya. Semua itu bisa direalisasikan, dengan lebih banyak berbuat ato berucap yang banyak manfaat untuk lingkungannya. Setiap orang punya ekspresi yang berbeda-beda tentunya. Banyak jalan menuju sesuatu yang kita inginkan. Di dunia ini saya sangat sependapat, tidak ada yang tidak mungkin, semuanya mungkin. Menjadi tuhan pun mungkin lho! jadilah tuhan utk dirimu sendiri, ekstrimnya seperti itu. Disini saya ingin berbagi untuk diri saya sendiri khususnya dan umumnya tentu untuk yang baca tulisan ini. Ini semua dalam rangka selalu mengingatkan, bahwa tuhan menciptakan takdir itu bukan ibarat sebuah rel yang kita harus terpatok disitu, tidak bergerak kemanapun seperti nasib kereta api. Namun Takdir itu sendiri banyak orang menganalogikannya sebagai sebuah kamar. Dimana dalam kamar itulah kita tinggal, disitu juga kita diberikan kebebasan bertindak, berlari, tidur-tiduran, loncat-loncat, manjat-manjat, dan sebagainya. Kalau filosof Iqbal menerangkan bahwa hubungan tuhan dengan manusia, bukanlah seperti hubungan sepatu dan tukang bikin sepatu, dimana sepatu sebagai benda ciptaan tukang bikin sepatu,tidak bisa berbuat banyak hanya diam tergantung yang membuat.

Kita dilahirkan dengan banyak potensi, kita diciptakan dengan banyak kemampuan. Haruskah kita menjadi seorang yang kufur nikmat akibat tidak mampu memaksimalkan segala potensi dan kemampuan kita? Haruskah kita cukup berpangku tangan dengan terlalu banyak mengucapkan kata-kata ketidakmampuan? Kita lahir dengan mengemban segenap beban di muka bumi. Tidak ada tugas berleha-leha menunggu bintang jatuh di bumi ini. Ada pernyataan "hidup ini bukan untuk bersenang-senang namun untuk bekerja keras", setuju atau tidak tergantung anda. Tapi yang jelas banyak yang bisa kita lakukan dalam hidup ini. Banyak mimpi yang bisa kita raih dalam hidup, jadi tidak ada alasan untuk berputus asa, mari kita banyak bertindak tidak cuma banyak berkata-kata.

Posted at di 7:02 PM on by Diposting oleh Heri Sandi | 0 komentar   | Filed under:

Memberi Vs Menerima

Setiap hidup apapun keadaannya adalah sebuah pilihan, begitu orang sering mengatakan. Setiap kita dalam menjalani kehidupan tentu mempunyai sebuah tujuan dan setiap tujuan manusia tidak terlepas dari konsep diri. Kebahagiaan adalah sebuah tujuan tertinggi setiap individu manusia begitu katanya. Tidak ada manusia yang senang hidup dengan penderitaan di dunia ini, semuanya ingin bahagia, terkait jasmani maupun rohaninya.

Banyak cara manusia meraih hal tersebut, ada yang berburu harta, tahta sebanyak-banyaknya dengan segala macam cara ditempuhnya.Sikut kiri-kanan peras keringat banting tulang,kawan jadi lawan, langgar aturan dan sebagainya. Karena dirinya berpendapat bahwa harta,pangkat,jabatanlah yang mampu membahagiakan dirinya. Namun ada juga yang memperbanyak karya dalam hidupnya demi memanusiakan dirinya. Karena dengan berbuat hal itu dirinya berpendapat bahwa kebahagiaan akan mampu diraihnya. Dengan karya yang mampu menjadikan kehidupan manusia disekelilingnya lebih baik, dan dengan nilai-nilai itu berharap meraih investasi untuk hari dimana dia dibangkitkan menuju kehidupan yang lebih kekal.

Semua aktivitas, apapun bentuknya dilakukan manusia untuk memuaskan keinginannya. Setidaknya ada satu nilai yang menjadi catatan, bahwa kita tidak terlepas dari aktivitas memberi dan menerima. Kebanyakan manusia senang menuntut sesuatu kepada orang lain. Apalagi terkait dengan sesuatu yang sulit dirinya raih. Keinginan mendapatkan sesuatu dengan cara mudah sepertinya hampir semua manusia berkeinginan seperti itu. Makanya tidak heran dalam kehidupan ini mayoritas manusia lebih banyak menuntut daripada berkontribusi dalam hidup.

Menciptakan kesadaran lebih banyak memberi dalam diri kita bukanlah hal yang mudah, namun juga bukan hal yang terlalu sulit untuk dilakukan. Sebuah komitmen dalam hal apapun sangat diperlukan, termasuk komitmen yang satu ini. Dengan segala keterbatasan kita adalah satu perbuatan mulia ketika kita hidup berusaha untuk lebih banyak memberi daripada menerima, baik berupa harta,karya, tahta, fikiran dan lain sebagainya. Kebahagian sejati adalah ketika melihat orang lain bahagia, dan adalah sebuah kesenangan tersendiri ketika melihat kehidupan ini semakin hari semakin lebih baik, mudah-mudahan semakin kita banyak berkontribusi dalam kehidupan kita, siapapun, apapun yang ada di sekeliling kita setiap hari merasakan manfaatnya dan tentunya menuju keadaan yang lebih baik,itu tentu yang kita harapkan bersama.

Posted at di 6:25 PM on by Diposting oleh Heri Sandi | 0 komentar   | Filed under:

Kenapa Mesti Takut?

Membicarakan ketakutan, rasanya bukan hal yang aneh dalam hidup kita. Setiap kita tidak ada yang tidak memiliki rasa takut, semua punya fitrah memiliki rasa takut. Apakah itu takut miskin, takut kelaparan, takut setan, dan yang paling pupoler adalah takut mati. Sekarang yang jadi pertanyaan kita adalah, sebenarnya dari setiap keadaan yang kita takutkan, apa sih sebenarnya yang kita takutkan itu sendiri. Ada orang yang takut ketinggian, kenapa dia takut ketinggian? Ada sebagian orang takut setan, kenapa dia takut setan? Dan yang lebih keren adalah takut mati, kenapa dia takut mati? apa sebenarnya faktor yang menyebabkan kita takut mati, begitupun dengan takut-takut yang lain. Ketika kita merasa takut dengan sebuah keadaan, intinya kita takut menjalani keadaan itu sendiri yang kita belum pernah menjalaninya.

Sebagai contoh kita takut ketinggian, apakah kita benar-benar takut dengan kata ketinggian itu, atau takut akibat dari ketinggian itu yaitu keadaan jatuh. Dimana keadaan jatuh adalah keadaan menyakitkan, dan sesuatu yang menyakitkan bisa menyebabkan kematian, dan kita takut dengan semua akibat itu, walaupun kita belum menjalaninya apakah akibat-akibat itu tidak menyenangkan buat kita. Kemudian contoh yang lain takut dengan kematian. Sebenernya kita takut dengan kata kematian itu, atau takut akibat dari kematian itu sendiri dimana kita berkeyakinan akan menjalani keadaan kehidupan baru sesudahnya?

Kita terlahir kedunia ini dengan perantara orang tua kita. Setiap kita dibekali beragam perangkat hidup yang luar biasa oleh sang Pencipta. Dari mulai panca indera, hingga triliunan memori yang terkandung dalam otak kita. Kesemuanya luar biasa dan yang penting semuanya gratis. Dengan keseluruhan perangkat ini kita dituntut untuk memanfaatkan dengan maksimal semua potensi tersebut.

Ketika kita masih kecil, kita sering memiliki banyak ketakutan, bahkan mungkin takut melihat orang tua kita sendiri. Ini sebuah kewajaran ketika kita memasuki dunia baru, yang tidak pernah kita lihat sebelumnya, otomatis rasa asing itu ada dalam benak kita, dan otak kita pun belum memiliki memori mengenai apa yang memang baru kita lihat. Ketika kita semakin dewasapun rasa takut ketika melihat sesuatu yang baru itu masih terus berlangsung tentunya dengan format ketakutan yang berbeda. Sebagai profesional yang bergerak di bidang kreatif, saya selalu dituntut untuk menciptakan sesuatu hal yang baru setiap saat. Dengan segenap kemampuan kewajiban itu selalu berusaha untuk ditunaikan. Ketika proses itu berjalan dan puncaknya tercipta sebuah karya yang benar-benar baru, banyak orang disekeliling kita yang optimis, bahwa karya ini bisa diterima khalayak, namun tidak sedikit yang pesimis bahwa karya ini tidak bisa diterima khalayak umum yang tentu berpatokan pada sebuah kesepakatan yang berlangsung saat ini. Semuanya tidak salah hanya persepsi kita saja yang berbeda tentunya dalam mengapresiasi sebuah karya.

Dalam hal lain kadang mencoba untuk mengapresiasi sebuah karya kreatif yang benar-benar baru yang diciptakan para maestro dunia yang jelas diakui kepiawaianya. Apakah itu bidang produk, interior, grafis, ilustrasi dsb. Sebagai penikmat kadang menemukan bahwa sesuatu yang benar-benar baru itu ada yang langsung bisa kita nikmati dan kita katakan bagus, namun ada yang memerlukan proses alias pengamatan jeda. Terkadang kita kurang bisa langsung menerima terhadap sebuah hasil karya, dikarenakan karya itu benar-benar baru, yang tentunya sangat asing bagi pengamatan kita. Namun ketika itu sudah ternikmati, ternyata lebih abadi keindahannya, dibandingkan dengan sebuah karya yang langsung bisa kita nikmati namun punya keindahan yang tidak terlalu panjang usianya, alias cepat bosan.

Setiap kita diberi kemampuan untuk merubah dunia ke arah yang lebih baik. Setiap kita pun punya kesempatan untuk menciptakan dunia lebih menyenangkan.Karenanya ketakutan-ketakutan dalam menyikapi kehidupan sepertinya lebih baik kita singkirkan saja. Banyak ketakutan sangat menghambat eksplorasi hidup kita, sehingga mendorong kita ke lembah kenyamanan yang membahayakan. Sebab siapa tahu sesudah kematian itu ternyata kehidupannya sangat menyenangkan :), atau mungkin keadaan jatuh juga lebih menyenangkan daripada kehidupan normal seperti saat ini. Intinya jangan segan memulai keadaan yang sangat baru, hidup hanya sekali dan begitu singkat, mari ciptakan kebaruan-kebaruan dalam kehidupan kita menuju kehidupan yang lebih baik dan menyenangkan.

Posted at di 6:13 PM on by Diposting oleh Heri Sandi | 0 komentar   | Filed under: