Menerka 01

Seorang anak yang terlihat masih remaja, memikul kotak kayu untuk berdagang makanan di sebuah sekolah dasar. Kulihat memakai baju yang agak lusuh, dengan wajah biasa saja, sepertinya tanpa beban sebagaimana yang aku fikirkan saat itu. Sedikit menebak apakah dia seorang anak yang putus sekolah, atau seorang anak yang tidak mampu melanjutkan pendidikan ke tingkat selanjutnya. Dari raut wajahnya kuterka banyak cita-cita yang ingin ia raih, karena merasa sebagai salah satu anak negeri ini yang begitu kaya raya. Terkadang dia melihat mbak dan tantenya sepanjang jalan yang begitu rapih untuk berangkat bekerja. Mungkin terlintas dipikirannya alangkah senangnya seandainya aku seperti mereka, bias bekerja di kantoran yang bersih, mewah, dengan segala fasilitas kenyamanan. Sedangkan yang aku jalani sekarang ini memalukan, tidak terhormat, hanya seorang penjual makanan murahan yang aku jual untuk anak-anak sekolah dasar yang harganya juga ratusan perak, gak membuat aku kaya, buat makan saja gak cukup, mana aku harus mencukupi kebutuhan seluruh keluarga, ibu bapaku sudah sepuh harus aku layani.

Ditengah hingar bingar perkotaan dimana setiap insan berjuang mempertahankan hidup dengan caranya masing-masing. Tidak semua menikmati hasil kerja keras, ada yang hanya seper sepuluh kerja keras hasil yang dinikmati. Haruskah kita berputus asa untuk meneruskan kerja keras ini, semakin hari semakin pesimis dengan keadaan. Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin tak menentu, mobil mewah berseliweran, rumah-rumah mewah terus tumbuh terbangun, aku terus saja sibuk mencari kepingan uang di setiap sampah dengan waktu mendahului mentari menampakkan sinarnya. Aku liat café-café mewah, pusat-pusat belanja, dan keramaian lainnya selalu bejubel penuh dengan canda tawa kegembiraan pengunjung yang seolah tiada terhenti. Mereka begitu puas membayar secangkir kopi yang setara dengan uang makanku sebulan. Memang aku harus sadar begitulah dunia tidak semuanya bernasib sama.

Seorang anak tadi sedikit tersenyum melihat teman sebayanya berdandan rapi siap-siap berangkat untuk sekolah, siap diantar dengan mobil kelas menengah yang sepertinya masih baru. Aku diam dan melihat lebih dalam wajahnya kembali kuterka apa yang ada di dalam benaknya detik itu, sepertinya dia ingin seperti teman sebayanya itu. Ingin bias sekolah dengan tinggi, ingin berjalan-jalan dengan teman-teman yang bersih, cakep-cakep, dengan menenteng ponsel canggih, I Pod, sepatu bermerek dan lain sebagainya. Ketika malam minggu ingin bersama meraka menghabiskan waktu di tempat nongkrong yang kebanyakan orang gaul disitu. Sedangkan selama ini aku hanya bias beli pakaian yang tidak aku suka, ponsel canggih juga tak mampu kubeli, apalagi yang lain nyebut namanya juga sulit. Sepertinya sih sama keinginanku dengan yang lain, hanya bentuknya yang berbeda. Tentunya kegembiraanya juga berbeda, temennya beda, ngomongnya beda, teriakan dan cara memegang temennya juga berbeda.

Air mata sudah sebegitu kering untuk keluar, rasa empati, sudah semakin biasa, dan semakin miskin tindak lanjut. Tidak jauh berbeda dengan negeri ini, lebih banyak orang berwacana, lebih banyak orang mengkritisi, lebih banyak bicara, dan lebih banyak bertengkar, padahal bukan itu yang kuinginkan. Sungguh aku butuh yang peduli untuk mendukung hidupku kearah yang lebih baik selain diriku. Aku tahu hidup yang seperti apa yang baik menurut kalian, berikan aku tempat, berikan aku kesempatan kalian yang telah lebih dulu meraihnya. Wajahnya tidak me-merah marah, dia hanya diam tdk banyak berkata, ini hanya tebakanku semata. Mungkin kehidupannya tidak serumit yang kukira, terlalu bodoh kalau diri ini berpendapat, harus berhati-hati tinggal di negeri ini sedikit berbuat salah, seumur-umur bias kena kutukan. Belum ingin membuat kesimpulan, tapi masih harus melanjutkan tatapanku lebih dalam, karena kurasa ada kedamaian yang bias kudapat dari wajahnya.


About this entry


0 komentar: