
Memandangi wajah seorang sahabat perempuan, teringat kembali seorang sosok sahabat lain yang pernah ku kenal. Dimana waktu itu sempat merasakan kesedihan dan keinginan yang sama. Waktu kadang terasa begitu cepat, sehingga masa-masa itu menjadi begitu cepat berlalu. Merasakan apa yang orang lain rasakan sepertinya sama sulitnya ketika harus melihat apa yang orang lain lihat. Menjadi seseorang yang pandai memposisikan diri menjadi orang yang ada di depan kita,sepertinya harus bekerja keras mewujudkannya. Keringat yang mengucur sebagai buah dari kerja keras seseorang kadang kita tidak ingin peduli, namun ketika kita banyak berbicara mencari belas kasihan orang lain, terasa begitu menyesakkan ketika tidak ada yang peduli sama sekali.
Melihat kerutan wajahnya yang begitu akrab seolah kembali mengulang cerita yang pernah kujalani di masa lalu. Tidak pernah rasanya perasaan ini ku bagi dengan yang lain seingatku. Begitu tertanam senyummu yang mampu menghapus segala keraguanku di lubuk hati. Begitu pentingnya dirimu untukku. Semua kenangan yang pernah dibuat seolah tidak akan pernah terhapuskan waktu. Begitu kuat mampu menembus dinding ruang dan waktu. Tak banyak yang dulu aku pinta padamu selain menghangatkan kesendirianku. Waktu yang banyak aku gunakan untuk berfikir, disitulah pelukan lembutmu mampu menghilangkan kelelahanku. Tentang dunia dimana ku berpijak dan melupakan waktu. Tentang dimana ruang-ruang yang aku dekati begitu banyak tak terhitung. Hanya dirimu yang mampu membuang kebingunganku.
Sangat sadar ketika Tuhan berseru untuk kita bersama menjadi lebih dekat dan lebih merasakan kehadiran yang lebih satu sama lain. Sangat sadar pula ketika semuanya mengharapkan seperti itu untuk terjadi. Terkadang kita merasa sangat begitu pandai untuk membuat keputusan, sehingga merasa tidak memerlukan campur tangan lain untuk membantu. Senyummu yang hangat semakin terasa lembut. Tanganmu yang halus menyentuh tubuhku, semakin aku terlelap dalam ketenangan yang mempersulit untuk terbangun. Ketika semuanya berhenti, dirimu pun pergi entah kemana. Semakin terasa memang aku memerlukanmu yang terkadang dengan sadar kuingkari. Ingin kuraba wajah halusmu, tapi tanganku tak kuasa membuat bayangan yang kuinginkan. Semuanya hanya keinginan dengan garis-garis yang terputus.
Wajah Sahabat
Melihat Lebih Dalam
Suatu saat mampir di sebuah warung bubur kacang dan mie rebus 24 jam. Disitu penuh dengan saudara-saudara dari kalangan abang beca, pengendara ojek, dan ada beberapa yang sepertinya agak pengangguran, alias kerja kadang-kadang. Menikmati semangkuk bubur kacang hangat ditemani beberapa keping roti tawar termurah, cukup mengenyangkan demi mengganjal rasa lapar ketika harus lembur demi menyelesaikan pekerjaan. Emmm...nikmat sekali di tengah dinginnya malam.
Ditengah-tengah hangatnya perbincangan dari masing-masing individu, terdengar suara radio yang sengaja agak dikeraskan suaranya karena malam itu sebuah radio rutin memutar kesenian wayang golek yang sangat digemari. Sambil telinga terpasang untuk menikmati pagelaran wayang, juga terlibat perbincangan ringan mengenai hobi masing-masing, dari mulai memancing, cerita di kampung halaman, curhat keluarga keluhan mahalnya pendidikan, sampe masalah-masalah terkini yang menjadi tontonan bersama di media.
Membahas hal-hal yang ringan, jujur, bahkan lucu untuk melepas lelah disampaikan dengan senang hati menciptakan suasana keakraban yang membawa efek psikologis luar biasa. Setiap mereka ada yang memang sahabat dekat namun tidak sedikit yang baru menjalin keakraban disitu dan saat itu. Kadang hati ini merasa bahwa kehidupan tidak serumit yang selama ini kukira. Banyak kehidupan yang begitu sederhana di depan mata. Namun terkadang mata dan hati ini begitu egois untuk tidak melihatnya dengan seksama.
Melihat dan mendengar kenyataan yang diungkapkan, banyak sekali hal-hal kecil diluar diri kita ternyata besar buat orang lain. Kita kadang sulit menerima dan kadang mencaci kenyataan hidup yang kita jalani, tapi ternyata ada begitu banyak orang menjalani hidup yang mungkin lebih buruk daripada kita, dijalaninya dengan suka cita tanpa rasa ragu bebas keluh kesah. Kalo dipikir-pikir seberapa besar sih penghasilan mereka, seberapa banyak sih harta yang siap diwariskan kepada keturunannya. Mungkin untuk makan besok pun mereka masih bingung mau cari kemana mendapatkannya.
Sedikit melihat dan membuka hati untuk mereka, mudah-mudahan bisa melahirkan empati dan rasa syukur dalam diri. Tidak banyak orang yang seberuntung anda menikmati hidup berkecukupan, bahkan melimpah kesenangan. Tidak semua menikmati pendidikan setinggi anda, pakaian sebagus anda, bahkan tidak semua menikmati kelezatan makanan import yang anda masukan kedalam mulut anda saat ini yang harganya melebihi uang belanja satu keluarga abang becak.
Antara Karya dan Nilai
Suatu saat berbincang dengan seorang teman seniman mengenai proses kreatif yang menjadi awal dalam membuat sebuah karya. Kemudian beliau mengatakan hal yang sangat penting mengenai apa-apa yang diperbuatnya. Kita harus membuat karya yang berisi, dalam arti ada makna dibalik karya. Buat apa kita menyajikan sesuatu yang kosong tanpa nilai, hanya menyajikan kosmetik mengenyampingkan nilai-nilai. Cukup menarik apa yang menjadi pijakan prinsip ketika menciptakan karya bagi seorang seniman. Tidak jauh berbeda dengan para maestro lainnya yang telah melanglang buana di jagat berkesenian, yang telah kenyang dengan asam garamnya.
Sebagai seorang yang merasa selalu berkeinginan menciptakan banyak karya dalam hidup, diri inipun setuju dengan prinsip para maestro tersebut. Karya mungkin mudah untuk diciptakan dengan segenap kemampuan kita. Namun menciptakan nilai-nilai itu secara bersamaan yang saya kira bukan hal yang mudah. Perjalanan hidup, perenungan, pengalaman intelektual dan spiritual, semuanya mempunyai pengaruh yang tidak sedikit. Kita sering terjebak dengan hal-hal yang sifatnya kosmetik, sibuk mempercantik visual, banyak menimbang keuntungan materi yang akan diperoleh ketika ingin menyajikan sesuatu, sehingga nilai-nilai yang ingin kita sampaikan pun menjadi tidak jelas. Tapi begitulah saya dan mungkin anda, terkadang menjadi seseorang yang gampang terpedaya dengan kosmetik dan melupakan segalanya.
Merupakan sebuah kebanggan ketika saya berhasil menyajikan sesuatu yang dianggap antara nilai dengan visual berjalan beriringan. Seterusnya akan semakin bangga ketika nilai-nilai yang saya sampaikan bisa diterima dan diapresiasi positif oleh khalayak tentunya. Selanjutnya merupakan puncak tertinggi dari kepuasan saya adalah ketika nilai-nilai itu tentu mampu memberikan warna dalam kehidupan khalayak sebagai apresiator. Nilai-nilai kebaikan tidak selamanya harus disampaikan menjemukan, sedikit improvisasi, dan kenakalan positif sepertinya tidak salah kita coba.
Sayang sekali kalau kita hanya sibuk menyajikan estetika visual tanpa nilai, yang hanya berakhir di tempat sampah. Kenapa tidak kita terbiasa menyampaikan dengan nilai-nilai yang mampu memberikan warna positif dalam hidup siapapun. Saya rasa sudah sangat lama diri-diri ini menghuni semesta alam raya ini. Begitu banyak nilai yang kita peroleh dari perjalanan hidup, tidak bisakah kita menyerap dan menyeleksi kemudian mematangkannya dan menghidangakan kembali kepada khalayak dengan format berbeda dan polesan aksesoris lainnya agar tampak lain lebih baru dan lebih kaya. Semua senang dengan hal baru dan menarik, meskipun tidak sepenuhnya baru.
