Seorang anak yang terlihat masih remaja, memikul kotak kayu untuk berdagang makanan di sebuah sekolah dasar. Kulihat memakai baju yang agak lusuh, dengan wajah biasa saja, sepertinya tanpa beban sebagaimana yang aku fikirkan saat itu. Sedikit menebak apakah dia seorang anak yang putus sekolah, atau seorang anak yang tidak mampu melanjutkan pendidikan ke tingkat selanjutnya. Dari raut wajahnya kuterka banyak cita-cita yang ingin ia raih, karena merasa sebagai salah satu anak negeri ini yang begitu kaya raya. Terkadang dia melihat mbak dan tantenya sepanjang jalan yang begitu rapih untuk berangkat bekerja. Mungkin terlintas dipikirannya alangkah senangnya seandainya aku seperti mereka, bias bekerja di kantoran yang bersih, mewah, dengan segala fasilitas kenyamanan. Sedangkan yang aku jalani sekarang ini memalukan, tidak terhormat, hanya seorang penjual makanan murahan yang aku jual untuk anak-anak sekolah dasar yang harganya juga ratusan perak, gak membuat aku kaya, buat makan saja gak cukup, mana aku harus mencukupi kebutuhan seluruh keluarga, ibu bapaku sudah sepuh harus aku layani.
Ditengah hingar bingar perkotaan dimana setiap insan berjuang mempertahankan hidup dengan caranya masing-masing. Tidak semua menikmati hasil kerja keras, ada yang hanya seper sepuluh kerja keras hasil yang dinikmati. Haruskah kita berputus asa untuk meneruskan kerja keras ini, semakin hari semakin pesimis dengan keadaan. Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin tak menentu, mobil mewah berseliweran, rumah-rumah mewah terus tumbuh terbangun, aku terus saja sibuk mencari kepingan uang di setiap sampah dengan waktu mendahului mentari menampakkan sinarnya. Aku liat café-café mewah, pusat-pusat belanja, dan keramaian lainnya selalu bejubel penuh dengan canda tawa kegembiraan pengunjung yang seolah tiada terhenti. Mereka begitu puas membayar secangkir kopi yang setara dengan uang makanku sebulan. Memang aku harus sadar begitulah dunia tidak semuanya bernasib sama.
Seorang anak tadi sedikit tersenyum melihat teman sebayanya berdandan rapi siap-siap berangkat untuk sekolah, siap diantar dengan mobil kelas menengah yang sepertinya masih baru. Aku diam dan melihat lebih dalam wajahnya kembali kuterka apa yang ada di dalam benaknya detik itu, sepertinya dia ingin seperti teman sebayanya itu. Ingin bias sekolah dengan tinggi, ingin berjalan-jalan dengan teman-teman yang bersih, cakep-cakep, dengan menenteng ponsel canggih, I Pod, sepatu bermerek dan lain sebagainya. Ketika malam minggu ingin bersama meraka menghabiskan waktu di tempat nongkrong yang kebanyakan orang gaul disitu. Sedangkan selama ini aku hanya bias beli pakaian yang tidak aku suka, ponsel canggih juga tak mampu kubeli, apalagi yang lain nyebut namanya juga sulit. Sepertinya sih sama keinginanku dengan yang lain, hanya bentuknya yang berbeda. Tentunya kegembiraanya juga berbeda, temennya beda, ngomongnya beda, teriakan dan cara memegang temennya juga berbeda.
Air mata sudah sebegitu kering untuk keluar, rasa empati, sudah semakin biasa, dan semakin miskin tindak lanjut. Tidak jauh berbeda dengan negeri ini, lebih banyak orang berwacana, lebih banyak orang mengkritisi, lebih banyak bicara, dan lebih banyak bertengkar, padahal bukan itu yang kuinginkan. Sungguh aku butuh yang peduli untuk mendukung hidupku kearah yang lebih baik selain diriku. Aku tahu hidup yang seperti apa yang baik menurut kalian, berikan aku tempat, berikan aku kesempatan kalian yang telah lebih dulu meraihnya. Wajahnya tidak me-merah marah, dia hanya diam tdk banyak berkata, ini hanya tebakanku semata. Mungkin kehidupannya tidak serumit yang kukira, terlalu bodoh kalau diri ini berpendapat, harus berhati-hati tinggal di negeri ini sedikit berbuat salah, seumur-umur bias kena kutukan. Belum ingin membuat kesimpulan, tapi masih harus melanjutkan tatapanku lebih dalam, karena kurasa ada kedamaian yang bias kudapat dari wajahnya.
Menerka 01
Wajah Sahabat

Memandangi wajah seorang sahabat perempuan, teringat kembali seorang sosok sahabat lain yang pernah ku kenal. Dimana waktu itu sempat merasakan kesedihan dan keinginan yang sama. Waktu kadang terasa begitu cepat, sehingga masa-masa itu menjadi begitu cepat berlalu. Merasakan apa yang orang lain rasakan sepertinya sama sulitnya ketika harus melihat apa yang orang lain lihat. Menjadi seseorang yang pandai memposisikan diri menjadi orang yang ada di depan kita,sepertinya harus bekerja keras mewujudkannya. Keringat yang mengucur sebagai buah dari kerja keras seseorang kadang kita tidak ingin peduli, namun ketika kita banyak berbicara mencari belas kasihan orang lain, terasa begitu menyesakkan ketika tidak ada yang peduli sama sekali.
Melihat kerutan wajahnya yang begitu akrab seolah kembali mengulang cerita yang pernah kujalani di masa lalu. Tidak pernah rasanya perasaan ini ku bagi dengan yang lain seingatku. Begitu tertanam senyummu yang mampu menghapus segala keraguanku di lubuk hati. Begitu pentingnya dirimu untukku. Semua kenangan yang pernah dibuat seolah tidak akan pernah terhapuskan waktu. Begitu kuat mampu menembus dinding ruang dan waktu. Tak banyak yang dulu aku pinta padamu selain menghangatkan kesendirianku. Waktu yang banyak aku gunakan untuk berfikir, disitulah pelukan lembutmu mampu menghilangkan kelelahanku. Tentang dunia dimana ku berpijak dan melupakan waktu. Tentang dimana ruang-ruang yang aku dekati begitu banyak tak terhitung. Hanya dirimu yang mampu membuang kebingunganku.
Sangat sadar ketika Tuhan berseru untuk kita bersama menjadi lebih dekat dan lebih merasakan kehadiran yang lebih satu sama lain. Sangat sadar pula ketika semuanya mengharapkan seperti itu untuk terjadi. Terkadang kita merasa sangat begitu pandai untuk membuat keputusan, sehingga merasa tidak memerlukan campur tangan lain untuk membantu. Senyummu yang hangat semakin terasa lembut. Tanganmu yang halus menyentuh tubuhku, semakin aku terlelap dalam ketenangan yang mempersulit untuk terbangun. Ketika semuanya berhenti, dirimu pun pergi entah kemana. Semakin terasa memang aku memerlukanmu yang terkadang dengan sadar kuingkari. Ingin kuraba wajah halusmu, tapi tanganku tak kuasa membuat bayangan yang kuinginkan. Semuanya hanya keinginan dengan garis-garis yang terputus.
Melihat Lebih Dalam
Suatu saat mampir di sebuah warung bubur kacang dan mie rebus 24 jam. Disitu penuh dengan saudara-saudara dari kalangan abang beca, pengendara ojek, dan ada beberapa yang sepertinya agak pengangguran, alias kerja kadang-kadang. Menikmati semangkuk bubur kacang hangat ditemani beberapa keping roti tawar termurah, cukup mengenyangkan demi mengganjal rasa lapar ketika harus lembur demi menyelesaikan pekerjaan. Emmm...nikmat sekali di tengah dinginnya malam.
Ditengah-tengah hangatnya perbincangan dari masing-masing individu, terdengar suara radio yang sengaja agak dikeraskan suaranya karena malam itu sebuah radio rutin memutar kesenian wayang golek yang sangat digemari. Sambil telinga terpasang untuk menikmati pagelaran wayang, juga terlibat perbincangan ringan mengenai hobi masing-masing, dari mulai memancing, cerita di kampung halaman, curhat keluarga keluhan mahalnya pendidikan, sampe masalah-masalah terkini yang menjadi tontonan bersama di media.
Membahas hal-hal yang ringan, jujur, bahkan lucu untuk melepas lelah disampaikan dengan senang hati menciptakan suasana keakraban yang membawa efek psikologis luar biasa. Setiap mereka ada yang memang sahabat dekat namun tidak sedikit yang baru menjalin keakraban disitu dan saat itu. Kadang hati ini merasa bahwa kehidupan tidak serumit yang selama ini kukira. Banyak kehidupan yang begitu sederhana di depan mata. Namun terkadang mata dan hati ini begitu egois untuk tidak melihatnya dengan seksama.
Melihat dan mendengar kenyataan yang diungkapkan, banyak sekali hal-hal kecil diluar diri kita ternyata besar buat orang lain. Kita kadang sulit menerima dan kadang mencaci kenyataan hidup yang kita jalani, tapi ternyata ada begitu banyak orang menjalani hidup yang mungkin lebih buruk daripada kita, dijalaninya dengan suka cita tanpa rasa ragu bebas keluh kesah. Kalo dipikir-pikir seberapa besar sih penghasilan mereka, seberapa banyak sih harta yang siap diwariskan kepada keturunannya. Mungkin untuk makan besok pun mereka masih bingung mau cari kemana mendapatkannya.
Sedikit melihat dan membuka hati untuk mereka, mudah-mudahan bisa melahirkan empati dan rasa syukur dalam diri. Tidak banyak orang yang seberuntung anda menikmati hidup berkecukupan, bahkan melimpah kesenangan. Tidak semua menikmati pendidikan setinggi anda, pakaian sebagus anda, bahkan tidak semua menikmati kelezatan makanan import yang anda masukan kedalam mulut anda saat ini yang harganya melebihi uang belanja satu keluarga abang becak.
Antara Karya dan Nilai
Suatu saat berbincang dengan seorang teman seniman mengenai proses kreatif yang menjadi awal dalam membuat sebuah karya. Kemudian beliau mengatakan hal yang sangat penting mengenai apa-apa yang diperbuatnya. Kita harus membuat karya yang berisi, dalam arti ada makna dibalik karya. Buat apa kita menyajikan sesuatu yang kosong tanpa nilai, hanya menyajikan kosmetik mengenyampingkan nilai-nilai. Cukup menarik apa yang menjadi pijakan prinsip ketika menciptakan karya bagi seorang seniman. Tidak jauh berbeda dengan para maestro lainnya yang telah melanglang buana di jagat berkesenian, yang telah kenyang dengan asam garamnya.
Sebagai seorang yang merasa selalu berkeinginan menciptakan banyak karya dalam hidup, diri inipun setuju dengan prinsip para maestro tersebut. Karya mungkin mudah untuk diciptakan dengan segenap kemampuan kita. Namun menciptakan nilai-nilai itu secara bersamaan yang saya kira bukan hal yang mudah. Perjalanan hidup, perenungan, pengalaman intelektual dan spiritual, semuanya mempunyai pengaruh yang tidak sedikit. Kita sering terjebak dengan hal-hal yang sifatnya kosmetik, sibuk mempercantik visual, banyak menimbang keuntungan materi yang akan diperoleh ketika ingin menyajikan sesuatu, sehingga nilai-nilai yang ingin kita sampaikan pun menjadi tidak jelas. Tapi begitulah saya dan mungkin anda, terkadang menjadi seseorang yang gampang terpedaya dengan kosmetik dan melupakan segalanya.
Merupakan sebuah kebanggan ketika saya berhasil menyajikan sesuatu yang dianggap antara nilai dengan visual berjalan beriringan. Seterusnya akan semakin bangga ketika nilai-nilai yang saya sampaikan bisa diterima dan diapresiasi positif oleh khalayak tentunya. Selanjutnya merupakan puncak tertinggi dari kepuasan saya adalah ketika nilai-nilai itu tentu mampu memberikan warna dalam kehidupan khalayak sebagai apresiator. Nilai-nilai kebaikan tidak selamanya harus disampaikan menjemukan, sedikit improvisasi, dan kenakalan positif sepertinya tidak salah kita coba.
Sayang sekali kalau kita hanya sibuk menyajikan estetika visual tanpa nilai, yang hanya berakhir di tempat sampah. Kenapa tidak kita terbiasa menyampaikan dengan nilai-nilai yang mampu memberikan warna positif dalam hidup siapapun. Saya rasa sudah sangat lama diri-diri ini menghuni semesta alam raya ini. Begitu banyak nilai yang kita peroleh dari perjalanan hidup, tidak bisakah kita menyerap dan menyeleksi kemudian mematangkannya dan menghidangakan kembali kepada khalayak dengan format berbeda dan polesan aksesoris lainnya agar tampak lain lebih baru dan lebih kaya. Semua senang dengan hal baru dan menarik, meskipun tidak sepenuhnya baru.
Semangaaaaaaaat!!!
Semangat sekali hari ini,emmm...energi selalu membludak untuk menjadikan hari ini selalu lebih baik dari hari kemarin. Mencoba meniru Rasullulah menjadi ummat yang terbaik dengan banyak berkarya untuk orang banyak bisa gak yah? Yahoooo...pagi sangat sejuk di kawasan pemukiman yang kutinggali, setiap pagi berkesempatan melihat view bandung yang luar biasa. Saya sangat mencintai pekerjaan yang saya jalani setiap hari rasanya tidak pernah merasa bosan bahkan semakin ingin terjerumus lebih dalam lagi sampai ke akar-akarnya. Dunia yang sangat jauh dari nilai kejenuhan menurutku, karena selalu bersinggungan dengan hal-hal baru setiap hari. Terima kasih tuhan mempertemukan dengan sesuatu yang aku sukai tiada pernah terhenti. Kadang hidup memang ajaib sesuatu tidak pernah terbayangkan sebelumnya ternyata menjadi kenyataan. Mungkin tidak setiap orang menikmati apa yang aku nikmati, yah begitulah rumput tetangga biasanya lebih hijau heheh...
Ketika melakukan sesuatu dengan penuh cinta memang menjadi ringan seberat apapun keadaan itu. Bahkan menjadi sangat menyenangkan bersinggungan dengan masalah-masalahnya setiap saat. Teringat ucapan mas Supardi Lee ktanya ketika setiap masalah datang ucapkan I Love You, wah kalo sudah sedemikian sepertinya hidup ini semakin menyenangkan, tidak akan pernah terucap kata keluh kesah yang tidak penting. Bayangkan ketika suatu pagi setiap orang datang dengan muka berseri-seri dengan mengekspresikan semangatnya masing-masing. Yahooo...menyenangkan sekali karya yang terbaik siap diciptakan hari ini, AllohuAkbar!!...disini berkahmu datang. Tapi coba bayangkan anda pergi berangkat ke kantor anda hari senin pagi kemudian disambut dengan wajah cemberut dan perbincangan masalah yang gak seharusnya dibicarakan, apalagi dengan ucapan keluh kesah yang sungguh tidak bermanfaat...emmm silahkan bayangkan mood anda yang sedang 100% klo tidak hancur seketika masih mending.
Begitulah bagaimana kita menyikapi hidup sangat berbeda setiap orang. Ada yang selalu memposisikan hidup dengan keadaan yang terbaik, namun banyak juga yang memposisikan hidup sangat rumit dan penuh keluh kesah dan keputusasaan...aduuuuuh payaaaaaah mana bisa semangat klo begini terus. Oke deh terserah kamu mo melihatnya seperti apa bebaaas. Yang terpenting menurutku hidup itu indah, sampai males banget untuk mati :P. Dengan karunia sehat, intelektualitas, skill kemampuan yang kita miliki yang tuhan karuniakan kita bisa berbuat banyak untuk menabung amal buat ntar di Akhirat. Wah lagi sholeh nih, mudah-mudahan bisa seperti itu amin. Ayooo!!!! jangan malas terus bekerja keras, hidup bukan buat bersenang-senang tapi terus berjuang...klo boleh ngasih pilihan mending sengsara waktu muda terus seneng pas kita tua, ato seneng pas muda sengsara pas kita tua, tentu idealnya seneng pas muda seneng pas tua juga halah! yah terserah mumpung masih muda dan energi membludak manfaatkan dengan baik, ingat tuhan seneng melihat proses daripada hasil...
Cepat atau Lambat Silahkan Memilih
Menyikapi kehidupan yang begitu kompleks, setiap orang rela melakukan apapun demi mengikuti kemana alur kehidupan itu berjalan. Semakin hari dunia ini semakin penuh sesak, seolah tidak ada ruang lagi untuk kita berkesempatan merenung. Setiap manusia dipacu untuk cepat bergerak dalam meraih apa yang menjadi keinginan hakiki sebuah kehidupan. Mungkin dahulu orang sering bilang berlaku hukum rimba, dimana yang kuat melahap yang lemah. Namun dijaman sekarang bukan hanya yang kuat melahap yang lemah, tapi juga yang cepat melahap yang lambat. Dalam era persaingan global seperti saat ini, ruang hidup sudah semakin melebur. Dulu orang mengagungkan nasionalisme, sehingga rela berada dalam penjara yang dibuat sendiri. Namun sekarang ruang itu sudah tanpa batas, sehingga ruang interaksi sudah tidak terbatas lagi. Kemampuan untuk gaul secara global senang tidak senang dijaman sekarang adalah keharusan, dimana setiap kita tidak mau dikatakan sebagai manusia kampungan yang tidak gaul. Dengan tuntutan kehidupan yang seperti itu, maka tidak heran di setiap pusat pendidikan yang menunjang untuk itu begitu bejubel, dari mulai pusat pelatihan bahasa, kemampuan skill teknologi, budaya, dan lain sebagainya. Semuanya menjajikan keberhasilan untuk menghadapi tantangan kehidupan global. Begitu antusias sekali setiap individu, demi meningkatkan kemampuan diri mereka dalam menghadapi persaingan hidup global.
Kenyataan dunia bulat ditepis Thomas Friedman dengan menyatakan dunia itu datar. Setiap manusia bisa saling bebas berkomunikasi dengan media digital, kekuatan internet dalam membangun jejaring sosial di dunia maya sudah begitu canggih. Inilah salah satu yang menyebabkan dunia menjadi sangat datar begitu tegasnya. Nasionalisme semakin melebur, pemain sepakbola tidak harus seorang warga negara asli untuk membela timnas sebuah negara.Persaingan hidup yang semakin kompleks dan semakin menarik seperti ini memicu kita untuk menjadi pribadi yang tahan banting untuk menjalaninya.
Setiap orang punya kesempatan yang sama untuk ikut berpartisipasi dalam pergaulan global. Bukan hal yang mustahil seorang fans Paris Hilton yang berada di gunung kidul bisa berkomunikasi digital dengan fans yang berada di belahan bumi lain, bahkan terlibat diskusi dengan idolanya sekalipun. Kekuatan media internet begitu luar biasa dalam mendatarkan dunia. Pola kerja outsourcing dari setiap belahan dunia membaur tanpa sekat ke seluruh pelosok dunia. Ada kawan yang tinggal di pedesaan kumuh tapi mengerjakan project dari negara-negara maju, dan tidak pernah bertatap muka sekalipun.
Begitu mudah orang mendapat nilai kebaikan dijaman sekarang ini, dan begitu juga dengan nilai keburukan. Tayangan TV yang diliat di metropolitan, sama dengan tayangan yg diliat di pelosok desa. Pola kehidupan yang terpaksa masuk tanpa sekat menimbulkan gejala sosial yang signifikan. Cara berpakaian orang desa sudah seperti orang kota, terlepas pantas ato tidak pantas.Cara bicara orang desa tidak jauh dengan cara bicara orang metropolitan. Gejala seperti ini tidak bisa kita hindari. Setiap penciptaan mampu menimbulkan dua sisi negatif positif. Kebijaksanaan kita dalam memilih sangat diperlukan. Adanya kesadaran dalam diri sangat mempengaruhi nilai mana yang bakal kita pilih.Namun ada yang membuat saya sedih, kenapa perkembangan ekonomi tidak mengalami percepatan yang seimbang antara di desa dan kota di negeri ini, sedangkan nilai kebutuhan yang harus dikeluarkan nyaris tidak berbeda dengan kehidupan perkotaan. Harga beras 6rb per kilo bisa menjadi persoalan logika yang biasa ketika seorang penduduk perkotaan mendapat penghasilan min.50rb per hari. Namun akan sangat berfikir keras ketika melihat pendapatan rata-rata penduduk pedesaan tidak lebih dari 10rb per hari harus membeli beras 6rb per kilo dengan biaya tanggungan lebih dari 4 org anggota keluarga.
Antara Amal Shalih dan Kewajiban
Sebagai umat beragama, kita tentu mengarahkan jalan kehidupan kita sesuai dengan ajaran agama yang kita anut. Kita juga sudah sangat sadar dengan kondisi apabila seseorang mengingkari sebagian atau keseluruhan ajaran agama maka konsekuensi pembelot siap disandangnya. Setiap agama hampir sebagian besar mengajarkan kebaikan, dan menjanjikan kebaikan apapun agamanya. Pada dasarnya setiap manusia juga senang dengan kebaikan, meskipun dia seorang penjahat sekalipun. Tidak ada penjahat yang senang dengan anak buah yang tidak jujur tentunya. Namun ekspresi kekecewaan atas kehidupan seseorang memilih untuk menentang kebaikan dari tuhan.
Membicarakan sebuah kebaikan (amal sholeh) dengan sebuah kewajiban menarik untuk kita renungkan. Kadang kita merasa telah beramal sholeh kepada seseorang padahal apa yang kita lakukan adalah sebuah kewajiban yang mesti kita tunaikan terkait dengan aturan yang telah digariskan agama. Kita tentu sangat sadar apabila kita tidak melakukan sebuah kewajiban dalam kehidupan beragama adalah dosa hukumnya. Namun ada rasa GR dalam diri ini ketika melakukan suatu kebaikan yang nyata-nyata wajib hukumnya, seolah merasa diri lebih soleh daripada yang lain. Ketika ada tetangga sedang dalam kesulitan ekonomi, lalu kita datang menolongnya, dengan tidak sengaja dalam hati merasa bahwa kita telah berbuat baik pada orang, padahal itu merupakan sebuah kewajiban yang diatur dalam agama, yang barang tentu apabila kita tidak melakukanya padahal mampu akan jadi berdosa.
Banyak sekali orang pandai mencaci maki dan menghujat tanpa mampu memberikan solusi. Banyak di kalangan kita tampil sebagai malaikat yang suci dari dosa, mencaci maki pelacur dengan hadiah neraka. Banyak dikalangan kita senang menganalisa dan mencerca para tuna wisma dan anak jalanan sebagai kalangan yang malas bekerja. Semua hidup ingin yang terbaik tentunya, tidak ada yang ingin dilahirkan menjadi seorang pelacur, gepeng, perompak, dan tek-tek bengek kejahilan lainnya. Hanya pilihan yang menentukan, atau sebuah kekacauan sistem yang melahirkan keadaan. Bersyukur kita dilahirkan dengan keadaan yang terbaik, terhormat, bahkan mungkin lebih berkelas. Anda punya selera yang lebih baik, dan punya etika lebih terhormat bersyukurlah. Kesempatan Anda dan mungkin saya lebih banyak untuk melakukan amal shalih dan kewajiban pergunakanlah!
Setan vs Malaikat
Melihat budi baik seseorang, kita sering terlena menilai dirinya secara keseluruhan. Tidak sedikit orang yang kelihatan baik, ternyata punya segudang masalah dibelakangnya. Banyak orang berpenampilan alim, tapi sisi kesetanannya lebih menonjol daripada kita yang nyata-nyata tidak kelihatan baik. Kadang merasa heran melihat tingkah laku orang yang berbuat dosa secara terang-terangan dan dilakukan dengan tertawa senang hati, di banding dengan saya yang masih malu-malu. Kadang juga sering memuji keberanian orang berbuat dosa yang jelas nyata dihujat publik, tapi dengan bangga dia melakukannya. Ketidak sempurnaan seorang manusia disini jelas terlihat, dimana sisi kemalaikatan dan kesetanannya saling ingin menonjolkan diri.
Kita sering terjebak dengan penampilan, apalagi kita menyadari kultur lokal kita sangat visual sekali menilai orang. Makanya kita sering menghakimi orang terlalu dini. Baru ketemu sekali, dengan alasan ada tatonya kita sebut preman yang boro-boro sholat mandipun jarang kayaknya:P. Tapi pertemuan berikutnya ktemu di mesjid bareng sholat berjamaah, kontan ungkapan kita berubah jadi pujian yang kadang berlebihan. Orang sering mengatakan katanya untuk memahami kepribadian seseorang perlu waktu lama untuk mengenalnya, bahkan dengan pasangan hidup sekalipun (istri/suami) yang jelas-jelas ditiduri tiap hari :D, perlu bertahun-tahun untuk mengenal kepribadian yang sebenarnya. Namun begitulah kita sering menghakimi terlalu dini kepada orang-orang disekitar kita. Dengan alasan politik-lah, hukum-lah, kebijakan-lah, kepercayaan-lah, dan lah-lah-lah yang lain :P.
Menyadari sisi positif negatif dalam diri kita memang bukan hal yang mudah, karena dalam tatanan kehidupan kita dituntut untuk selalu menjadi malaikat. Makanya ada pepatah panas setahun lunas dengan hujan satu hari, ato karena nila setitik rusak susu sebelanga. Maka jangan heran klo selama ini kita memanggil "ustadz" kemudian besok kita panggil "bangsat" akibat kesalahan yang hanya dibuat sekali saja. Melihat sebuah sisi baik sepertinya sulit bagi kita, namun tidak terlihat sekalipun yang namanya keburukan berusaha kita ciptakan. Semakin hari usia semakin bertambah, semakin dekat dengan kematian. Kita sepakat yang seharusnya terjadi ketika kita semakin dekat dengan kematian seharusnya kita semakin bijaksana. Emmm...sepertinya mulai saat ini jangan terlalu banyak menghakimi, tapi mungkin lebih banyak mempertanyakan alasan. Setiap orang punya kebebasan bertindak yang dibatasi kebebasan orang sekitarnya, mempertanyakan alasan setiap perbuatan sepertinya lebih bijaksana dari hanya sekedar menghakimi. Tidak semua orang ekstrovert, banyak yang introvert. Tidak semua berteriak lantang banyak yang malas bicara...tanyakan alasannya kenapa?
Baik vs Buruk
Setiap manusia pada dasarnya dalam kehidupan selalu dituntut untuk mengambil sebuah keputusan setiap waktunya. Membuat sebuah pilihan dalam hidup, terkadang tidak serta merta menjadi perbuatan yang begitu mudah untuk dilakukan setiap manusia. Setiap kita bebas menentukan sebuah pilihan dalam hidup. Yang baik dan yang buruk dengan bebas bisa kita pilih menurut selera kita masing-masing. Setiap manusia adalah unik, peribahasa mengatakan setiap kepala boleh sama hitam rambutnya, namun buah fikiran setiap kepala jelas pasti berbeda.
Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, kita sering dilibatkan dalam sebuah kompetisi berebut kursi kepemimpinan. Menentukan seseorang menjadi posisi yang kita inginkan, yang tentu daripadanya kita menaruh harapan. Walaupun terkadang kita sangat berlebihan dalam melakukannya. Semuanya tentu berpulang kepada keadaan dimana kita harus menentukan pilihan, apakah baik buruk, amanah tidak amanah, cantik tidak cantik, atau berwibawa tidak berwibawa. Semuanya mempunyai persepsi yang berbeda dalam menentukan pilihan ini.
Membedakan antara yang menurut kita buruk atau baik, bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Banyak tantangan yang mesti kita lewati sebelum menentukan konklusi. Apakan itu menyangkut keuntungan yang kita peroleh secara pribadi, atau keuntungan lain yang setidaknya mampu membuat sebuah keadaan menjadi lebih baik. Kenyataan ini memang hal yang wajar, ketika kita menetukan pilihan tentu ada keuntungan yang ingin kita peroleh setelah kita menetukan pilihan itu, baik sedikit maupun banyak. Jarang diantar kita berharap sesuatu yang buruk dari keputusan yang diambilnya, semuanya ingin memperoleh nilai positif.
Dalam masa sekarang dimana teknologi informasi yang berkembang begitu pesat, kita sering terombang ambing dengan sebuah pernyataan. Dimana beragam kepentingan yang begitu dominan dari belakang setiap informasi yang kita peroleh. Setiap kita yang berjiwa optimis tentu sulit menghindar dari keadaan ini, dimana kita mau tidak mau harus menjadi bagian dari keadaan itu. Sebuah informasi yang salah menurut para pakar media ketika dibombardir secara terus menerus, maka akan berubah menjadi suatu informasi yang dianggap benar, dan begitupun sebaliknya. Kita mungkin sedikit tersadar dengan keadaan ini, sebagaimana ketika kita melakukan perbuatan dosa yang kita lakukan berulang kali, akan berubah menjadi sesuatu yang dianggap biasa, bahkan lebih parah lagi menjadi sesuatu yang kita anggap tidak berdosa sama sekali.
Dimasa sekarang banyak diantara kita yang mengidolakan seorang figur yang menurut pribadinya bisa merepresentasikan dirinya. Baik secara fisik, pemikiran, perinsip, dan lain sebagainya. Ketika seorang pribadi mengidolakan seseorang, dia cenderung dominan lebih melihat sebuah sisi dimana pribadinya merasa terwakili, baik secara fisik maupun psikologis. Sehingga apa yang dinamakan bahasa spiritual sebagai taklid buta sering terjadi. Seseorang akan berusaha menempatkan idolanya dalam posisi terbaik, bahkan tidaksegan-segan menutup mata dan telinganya untuk tidak mendengar dan melihat keburukan dalam diri idolanya. Persetan dengan ungkapan orang lain idolaku tetap yang terbaik segalanya.
Fenomena ini bukan hal yang aneh dijaman sekarang ketika setiap manusia berusaha mencari sosok nyata untuk menaruh harapan yang bisa di idolakan. Banyak sekali terjadi dimana secara sosial dan spiritual seseorang dianggap sebagai biang kerok, namun disisi yang lain dia menjadi seseorang yang dielu-elukan oleh sekian ribu orang sebagai pahlawan yang patut diberi penghargaan. Disisi yang lain sebaliknya yang secara sosial spritual dianggap sebagai seseorang yang dianggap baik, namun karena aku tidak menyukainya, aku bersumpah untuk membencinya seumur hidupku. Disebuah negara yang baik katanya seorang yang salah harus dihukum, namun di sebuah negara yang dzalim maka seseorang yang benar yang harus dihukum. Kejadian ini bukan semata hanya sebuah wacana namun nyata terjadi di sekitar kita. Ada sebuah kelompok yang berusaha mati-matian membela seseorang tokoh yang dianggap idolanya untuk menempatkannya ke posisi yang terbaik dan terhormat.
Mugkinkah dari beragam fenomena ini kita memang sangat merindukan seorang pahlawan yang mampu merepresentasikan diri kita? katanya jika memang ini terjadi, begitu sangat menyedihkan sekali diri kita ini. Sehingga kita berusaha melahirkan pahlawan-pahlawan yang menurut kita layak. Taklid buta, atau sekedar ikut-ikutan, atau hanya terpesona penampilan fisiknya semata menjadi sebuah alasan untuk menentukan pilihan bahwa dia layak jadi pahlawan dan idolaku. Yang lebih parah lagi banyak individu yang berasa layak menjadi pahlawan, sehingga tidak segan-segan mengangkat dirinya sendiri sebagai pahlawan yang barang tentu sudah kesiangan. Sungguh menyedihkan keadaan ini, yang baik dan yang buruk sudah membaur dan sulit dibedakan. Persepsi kita menjadi kacau balau dengan gempuran beragam informasi yang begitu luar biasa. Banyak orang menangis dan tertawa tanpa kesadaran penuh, semuanya menjadi sangat klise. Seremonial menjadi sesuatu yang sakral, sebaliknya yang sakral dan esensial malah menjadi sesuatu hal yang banal......
Mimpi Siapa Takut?
Belakangan ini sering di gempur mimpi-mimpi terbang keangkasa luas, dengan bebas layaknya Peterpan sang tokoh kartun kesenanganku. Wah, asyik sekali, bisa loncat-loncat di atas awan, saling berkejaran melempar gumpalan awan, bercanda, tertawa, dsb.Gambaran kesenangan itu begitu melekat di angan-angan ini hehehe....wah mimpi terus, kapan bertindaknya yah? terus apa mungkin suatu saat bisa terbang mirip si Peterpan yah? emmm...kalau misalkan aku punya sayap, terus sayapnya terpatah satu, masih bisa nggak yah untuk terbang bebas...jadi teringat sebuah tulisan, katanya banyak sekali orang-orang yang melampui batas asal-usulnya, dengan terlebih dahulu harus melewati masa-masa yang begitu sangat-sangat-sangat-sangat sulit :D.
Menempuh hidup yang baik itu tidak selalu harus menjadi pahlawan. Namun malahan bisa menempuhnya justru menjadi seorang yang tertindas. Setiap orang berharap untuk menjadi yang terbaik dalam hidupnya. Semua itu bisa direalisasikan, dengan lebih banyak berbuat ato berucap yang banyak manfaat untuk lingkungannya. Setiap orang punya ekspresi yang berbeda-beda tentunya. Banyak jalan menuju sesuatu yang kita inginkan. Di dunia ini saya sangat sependapat, tidak ada yang tidak mungkin, semuanya mungkin. Menjadi tuhan pun mungkin lho! jadilah tuhan utk dirimu sendiri, ekstrimnya seperti itu. Disini saya ingin berbagi untuk diri saya sendiri khususnya dan umumnya tentu untuk yang baca tulisan ini. Ini semua dalam rangka selalu mengingatkan, bahwa tuhan menciptakan takdir itu bukan ibarat sebuah rel yang kita harus terpatok disitu, tidak bergerak kemanapun seperti nasib kereta api. Namun Takdir itu sendiri banyak orang menganalogikannya sebagai sebuah kamar. Dimana dalam kamar itulah kita tinggal, disitu juga kita diberikan kebebasan bertindak, berlari, tidur-tiduran, loncat-loncat, manjat-manjat, dan sebagainya. Kalau filosof Iqbal menerangkan bahwa hubungan tuhan dengan manusia, bukanlah seperti hubungan sepatu dan tukang bikin sepatu, dimana sepatu sebagai benda ciptaan tukang bikin sepatu,tidak bisa berbuat banyak hanya diam tergantung yang membuat.
Kita dilahirkan dengan banyak potensi, kita diciptakan dengan banyak kemampuan. Haruskah kita menjadi seorang yang kufur nikmat akibat tidak mampu memaksimalkan segala potensi dan kemampuan kita? Haruskah kita cukup berpangku tangan dengan terlalu banyak mengucapkan kata-kata ketidakmampuan? Kita lahir dengan mengemban segenap beban di muka bumi. Tidak ada tugas berleha-leha menunggu bintang jatuh di bumi ini. Ada pernyataan "hidup ini bukan untuk bersenang-senang namun untuk bekerja keras", setuju atau tidak tergantung anda. Tapi yang jelas banyak yang bisa kita lakukan dalam hidup ini. Banyak mimpi yang bisa kita raih dalam hidup, jadi tidak ada alasan untuk berputus asa, mari kita banyak bertindak tidak cuma banyak berkata-kata.
Memberi Vs Menerima
Setiap hidup apapun keadaannya adalah sebuah pilihan, begitu orang sering mengatakan. Setiap kita dalam menjalani kehidupan tentu mempunyai sebuah tujuan dan setiap tujuan manusia tidak terlepas dari konsep diri. Kebahagiaan adalah sebuah tujuan tertinggi setiap individu manusia begitu katanya. Tidak ada manusia yang senang hidup dengan penderitaan di dunia ini, semuanya ingin bahagia, terkait jasmani maupun rohaninya.
Banyak cara manusia meraih hal tersebut, ada yang berburu harta, tahta sebanyak-banyaknya dengan segala macam cara ditempuhnya.Sikut kiri-kanan peras keringat banting tulang,kawan jadi lawan, langgar aturan dan sebagainya. Karena dirinya berpendapat bahwa harta,pangkat,jabatanlah yang mampu membahagiakan dirinya. Namun ada juga yang memperbanyak karya dalam hidupnya demi memanusiakan dirinya. Karena dengan berbuat hal itu dirinya berpendapat bahwa kebahagiaan akan mampu diraihnya. Dengan karya yang mampu menjadikan kehidupan manusia disekelilingnya lebih baik, dan dengan nilai-nilai itu berharap meraih investasi untuk hari dimana dia dibangkitkan menuju kehidupan yang lebih kekal.
Semua aktivitas, apapun bentuknya dilakukan manusia untuk memuaskan keinginannya. Setidaknya ada satu nilai yang menjadi catatan, bahwa kita tidak terlepas dari aktivitas memberi dan menerima. Kebanyakan manusia senang menuntut sesuatu kepada orang lain. Apalagi terkait dengan sesuatu yang sulit dirinya raih. Keinginan mendapatkan sesuatu dengan cara mudah sepertinya hampir semua manusia berkeinginan seperti itu. Makanya tidak heran dalam kehidupan ini mayoritas manusia lebih banyak menuntut daripada berkontribusi dalam hidup.
Menciptakan kesadaran lebih banyak memberi dalam diri kita bukanlah hal yang mudah, namun juga bukan hal yang terlalu sulit untuk dilakukan. Sebuah komitmen dalam hal apapun sangat diperlukan, termasuk komitmen yang satu ini. Dengan segala keterbatasan kita adalah satu perbuatan mulia ketika kita hidup berusaha untuk lebih banyak memberi daripada menerima, baik berupa harta,karya, tahta, fikiran dan lain sebagainya. Kebahagian sejati adalah ketika melihat orang lain bahagia, dan adalah sebuah kesenangan tersendiri ketika melihat kehidupan ini semakin hari semakin lebih baik, mudah-mudahan semakin kita banyak berkontribusi dalam kehidupan kita, siapapun, apapun yang ada di sekeliling kita setiap hari merasakan manfaatnya dan tentunya menuju keadaan yang lebih baik,itu tentu yang kita harapkan bersama.
Kenapa Mesti Takut?
Membicarakan ketakutan, rasanya bukan hal yang aneh dalam hidup kita. Setiap kita tidak ada yang tidak memiliki rasa takut, semua punya fitrah memiliki rasa takut. Apakah itu takut miskin, takut kelaparan, takut setan, dan yang paling pupoler adalah takut mati. Sekarang yang jadi pertanyaan kita adalah, sebenarnya dari setiap keadaan yang kita takutkan, apa sih sebenarnya yang kita takutkan itu sendiri. Ada orang yang takut ketinggian, kenapa dia takut ketinggian? Ada sebagian orang takut setan, kenapa dia takut setan? Dan yang lebih keren adalah takut mati, kenapa dia takut mati? apa sebenarnya faktor yang menyebabkan kita takut mati, begitupun dengan takut-takut yang lain. Ketika kita merasa takut dengan sebuah keadaan, intinya kita takut menjalani keadaan itu sendiri yang kita belum pernah menjalaninya.
Sebagai contoh kita takut ketinggian, apakah kita benar-benar takut dengan kata ketinggian itu, atau takut akibat dari ketinggian itu yaitu keadaan jatuh. Dimana keadaan jatuh adalah keadaan menyakitkan, dan sesuatu yang menyakitkan bisa menyebabkan kematian, dan kita takut dengan semua akibat itu, walaupun kita belum menjalaninya apakah akibat-akibat itu tidak menyenangkan buat kita. Kemudian contoh yang lain takut dengan kematian. Sebenernya kita takut dengan kata kematian itu, atau takut akibat dari kematian itu sendiri dimana kita berkeyakinan akan menjalani keadaan kehidupan baru sesudahnya?
Kita terlahir kedunia ini dengan perantara orang tua kita. Setiap kita dibekali beragam perangkat hidup yang luar biasa oleh sang Pencipta. Dari mulai panca indera, hingga triliunan memori yang terkandung dalam otak kita. Kesemuanya luar biasa dan yang penting semuanya gratis. Dengan keseluruhan perangkat ini kita dituntut untuk memanfaatkan dengan maksimal semua potensi tersebut.
Ketika kita masih kecil, kita sering memiliki banyak ketakutan, bahkan mungkin takut melihat orang tua kita sendiri. Ini sebuah kewajaran ketika kita memasuki dunia baru, yang tidak pernah kita lihat sebelumnya, otomatis rasa asing itu ada dalam benak kita, dan otak kita pun belum memiliki memori mengenai apa yang memang baru kita lihat. Ketika kita semakin dewasapun rasa takut ketika melihat sesuatu yang baru itu masih terus berlangsung tentunya dengan format ketakutan yang berbeda. Sebagai profesional yang bergerak di bidang kreatif, saya selalu dituntut untuk menciptakan sesuatu hal yang baru setiap saat. Dengan segenap kemampuan kewajiban itu selalu berusaha untuk ditunaikan. Ketika proses itu berjalan dan puncaknya tercipta sebuah karya yang benar-benar baru, banyak orang disekeliling kita yang optimis, bahwa karya ini bisa diterima khalayak, namun tidak sedikit yang pesimis bahwa karya ini tidak bisa diterima khalayak umum yang tentu berpatokan pada sebuah kesepakatan yang berlangsung saat ini. Semuanya tidak salah hanya persepsi kita saja yang berbeda tentunya dalam mengapresiasi sebuah karya.
Dalam hal lain kadang mencoba untuk mengapresiasi sebuah karya kreatif yang benar-benar baru yang diciptakan para maestro dunia yang jelas diakui kepiawaianya. Apakah itu bidang produk, interior, grafis, ilustrasi dsb. Sebagai penikmat kadang menemukan bahwa sesuatu yang benar-benar baru itu ada yang langsung bisa kita nikmati dan kita katakan bagus, namun ada yang memerlukan proses alias pengamatan jeda. Terkadang kita kurang bisa langsung menerima terhadap sebuah hasil karya, dikarenakan karya itu benar-benar baru, yang tentunya sangat asing bagi pengamatan kita. Namun ketika itu sudah ternikmati, ternyata lebih abadi keindahannya, dibandingkan dengan sebuah karya yang langsung bisa kita nikmati namun punya keindahan yang tidak terlalu panjang usianya, alias cepat bosan.
Setiap kita diberi kemampuan untuk merubah dunia ke arah yang lebih baik. Setiap kita pun punya kesempatan untuk menciptakan dunia lebih menyenangkan.Karenanya ketakutan-ketakutan dalam menyikapi kehidupan sepertinya lebih baik kita singkirkan saja. Banyak ketakutan sangat menghambat eksplorasi hidup kita, sehingga mendorong kita ke lembah kenyamanan yang membahayakan. Sebab siapa tahu sesudah kematian itu ternyata kehidupannya sangat menyenangkan :), atau mungkin keadaan jatuh juga lebih menyenangkan daripada kehidupan normal seperti saat ini. Intinya jangan segan memulai keadaan yang sangat baru, hidup hanya sekali dan begitu singkat, mari ciptakan kebaruan-kebaruan dalam kehidupan kita menuju kehidupan yang lebih baik dan menyenangkan.
