Mana bedanya yang baek ma yang buruk ya?

Setiap manusia pada dasarnya dalam kehidupan selalu dituntut untuk mengambil sebuah keputusan setiap waktunya. Membuat sebuah pilihan dalam hidup, terkadang tidak serta merta menjadi perbuatan yang begitu mudah untuk dilakukan setiap manusia. Setiap kita bebas menentukan sebuah pilihan dalam hidup. Yang baik dan yang buruk dengan bebas bisa kita pilih menurut selera kita masing-masing. Setiap manusia adalah unik, peribahasa mengatakan setiap kepala boleh sama hitam rambutnya, namun buah fikiran setiap kepala jelas pasti berbeda.

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, kita sering dilibatkan dalam sebuah kompetisi berebut kursi kepemimpinan. Menentukan seseorang menjadi posisi yang kita inginkan, yang tentu daripadanya kita menaruh harapan. Walaupun terkadang kita sangat berlebihan dalam melakukannya. Semuanya tentu berpulang kepada keadaan dimana kita harus menentukan pilihan, apakah baik buruk, amanah tidak amanah, cantik tidak cantik, atau berwibawa tidak berwibawa. Semuanya mempunyai persepsi yang berbeda dalam menentukan pilihan ini.

Membedakan antara yang menurut kita buruk atau baik, bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Banyak tantangan yang mesti kita lewati sebelum menentukan konklusi. Apakan itu menyangkut keuntungan yang kita peroleh secara pribadi, atau keuntungan lain yang setidaknya mampu membuat sebuah keadaan menjadi lebih baik. Kenyataan ini memang hal yang wajar, ketika kita menetukan pilihan tentu ada keuntungan yang ingin kita peroleh setelah kita menetukan pilihan itu, baik sedikit maupun banyak. Jarang diantar kita berharap sesuatu yang buruk dari keputusan yang diambilnya, semuanya ingin memperoleh nilai positif.

Dalam masa sekarang dimana teknologi informasi yang berkembang begitu pesat, kita sering terombang ambing dengan sebuah pernyataan. Dimana beragam kepentingan yang begitu dominan dari belakang setiap informasi yang kita peroleh. Setiap kita yang berjiwa optimis tentu sulit menghindar dari keadaan ini, dimana kita mau tidak mau harus menjadi bagian dari keadaan itu. Sebuah informasi yang salah menurut para pakar media ketika dibombardir secara terus menerus, maka akan berubah menjadi suatu informasi yang dianggap benar, dan begitupun sebaliknya. Kita mungkin sedikit tersadar dengan keadaan ini, sebagaimana ketika kita melakukan perbuatan dosa yang kita lakukan berulang kali, akan berubah menjadi sesuatu yang dianggap biasa, bahkan lebih parah lagi menjadi sesuatu yang kita anggap tidak berdosa sama sekali.

Dimasa sekarang banyak diantara kita yang mengidolakan seorang figur yang menurut pribadinya bisa merepresentasikan dirinya. Baik secara fisik, pemikiran, perinsip, dan lain sebagainya. Ketika seorang pribadi mengidolakan seseorang, dia cenderung dominan lebih melihat sebuah sisi dimana pribadinya merasa terwakili, baik secara fisik maupun psikologis. Sehingga apa yang dinamakan bahasa spiritual sebagai taklid buta sering terjadi. Seseorang akan berusaha menempatkan idolanya dalam posisi terbaik, bahkan tidaksegan-segan menutup mata dan telinganya untuk tidak mendengar dan melihat keburukan dalam diri idolanya. Persetan dengan ungkapan orang lain idolaku tetap yang terbaik segalanya.

Fenomena ini bukan hal yang aneh dijaman sekarang ketika setiap manusia berusaha mencari sosok nyata untuk menaruh harapan yang bisa di idolakan. Banyak sekali terjadi dimana secara sosial dan spiritual seseorang dianggap sebagai biang kerok, namun disisi yang lain dia menjadi seseorang yang dielu-elukan oleh sekian ribu orang sebagai pahlawan yang patut diberi penghargaan. Disisi yang lain sebaliknya yang secara sosial spritual dianggap sebagai seseorang yang dianggap baik, namun karena aku tidak menyukainya, aku bersumpah untuk membencinya seumur hidupku. Disebuah negara yang baik katanya seorang yang salah harus dihukum, namun di sebuah negara yang dzalim maka seseorang yang benar yang harus dihukum. Kejadian ini bukan semata hanya sebuah wacana namun nyata terjadi di sekitar kita. Ada sebuah kelompok yang berusaha mati-matian membela seseorang tokoh yang dianggap idolanya untuk menempatkannya ke posisi yang terbaik dan terhormat.

Mungkinkah dari beragam fenomena ini kita memang sangat merindukan seorang pahlawan yang mampu merepresentasikan diri kita? katanya jika memang ini terjadi, begitu sangat menyedihkan sekali diri kita ini. Sehingga kita berusaha melahirkan pahlawan-pahlawan yang menurut kita layak. Taklid buta, atau sekedar ikut-ikutan, atau hanya terpesona penampilan fisiknya semata menjadi sebuah alasan untuk menentukan pilihan bahwa dia layak jadi pahlawan dan idolaku. Yang lebih parah lagi banyak individu yang berasa layak menjadi pahlawan, sehingga tidak segan-segan mengangkat dirinya sendiri sebagai pahlawan yang barang tentu sudah kesiangan. Sungguh menyedihkan keadaan ini, yang baik dan yang buruk sudah membaur dan sulit dibedakan. Persepsi kita menjadi kacau balau dengan gempuran beragam informasi yang begitu luar biasa. Banyak orang menangis dan tertawa tanpa kesadaran penuh, semuanya menjadi sangat klise. Seremonial menjadi sesuatu yang sakral,sebaliknya yang sakral dan esensial malah menjadi sesuatu hal yang banal......

Posted at di 8:38 PM on Sunday, October 12, 2008 by Diposting oleh Heri Sandi | 0 komentar   | Filed under: