Bagaimana seandainya sebuah piring pecah menjadi dua bagian, kemudian dia bertemu dengan pecahannya itu, dan masing-masing pecahannya tidak saling mengetahui bahwa mereka itu sebenarnya satu bagian yang pernah terpisahkan dengan dinding ruang dan waktu. Mungkin mereka selamanya tidak akan pernah saling bersatu lagi, seandainya mereka tidak saling "merepresentasikan" dirinya masing-masing antara satu sama lain, sehingga diantara mereka timbul keyakinan yang memang saling membenarkan bahwa sebenarnya mereka itu satu bagian, yang suatu saat saling membutuhkan dan tidak ada pengganti selain diantaranya. Mereka harus bersatu tidak boleh tidak, itu kehendak yang maha mengetahui.
Pada hakekatnya kehidupan itu sebuah pencarian, termasuk mencari pecahan dirinya dan itu akan terus berlangsung selama dia masih bernafas. Pencarian belahan diri akan berhenti ketika belahannya itu di temukan. Keafdolan kebenaran belahan diri itu bisa diketahui ketika satu sama lain memperlihatkan kelancipan dan ketumpulan berkas pecahannya. Apabila kelancipan dan ketumpulan itu pas menyatu dengan presisi maka tidak akan ada benturan yang bisa merepresentasikan kembali keraguan kebenaran belahan mereka yang mampu melahirkan ketidak percayaan dan saling menuduh, dirasa ada tipu muslihat di antara mereka....toh saling mengisi itu (baik->buruk) adalah intinya.
Mungkin analogi belahan piring ini terlalu naif, namun demikian kehidupan, ketika sebuah pertemuan berlangsung antara pribadi berbeda lawan jenis, kemudian menyatakan kesediaan untuk bersatu saling mengisi dalam kehidupan, mereka tak beda dengan bagian sisi yang terpecah dari sebuah piring yang pasti saling mengisi. Saya mencoba memahami analogi ini untuk suatu ketika menjalankan roda kehidupan yang bernama keluarga. Agama mengajarkan tak ubahnya kedua pasangan ini seperti pakaian untuk keduanya, dimana istri merupakan pakaian bgi suami dan begitupun sebaliknya. Begitu indah agama menganalogikan bagaimana kelebihan menyempurnakan kekurangan.
Saling melengkapi kekurangan adalah salah satu tugas dalam berkeluarga sehingga relasi "kita" memang benar berfungsi dengan baik. Tidak ada manusia yang sempurna, tidak ada gading yg tak retak, begitu peribahasa menyebutkan, toh terkadang yang retak itu lebih artistik daripada yang mulus tanpa cacat. Tuhan tidak pernah menciptakan garis lurus yang presisi, karena tuhan maha tahu akan makhluknya yg bernama manusia yang tentu akan merasa jenuh ketika harus memandangi sebuah hal yang monoton. Maka Tuhan menciptakan garis-garis hidup yang dinamis, dimana diditu ada lekukan, cembungan, tebal tipis, kontur, dsb. Begitu ekspresip tuhan menciptakan itu semua, karena kesayangan kepada makhluk ciptaan-Nya yaitu kita manusia dan seluruh ekosistem di dalamnya.
Banyak bentuk syukur yang bisa kita realisasikan dalam hidup kita. Memelihara apa yang telah dianugerahkan kepada kita, dan memanfaatkannya dengan baik sesuai kehendak-Nya adalah salah satunya. Mensyukuri pasangan hidup kita, dan mensyukuri segala sesuatu yang berada di sekitar kita yang menunjang kehidupan kita, tentu wajib kita lakukan. Begitu nikmat hidup yang hanya sekali ini jangan pernah disia-sia kan.
