Curhat Desain

Berhubungan dengan segala hal yang bersifat subjektif memang terkadang jadi makan hati. Tiap orang berusaha memberikan koreksi maupun masukan untuk memperbaiki kesubjektifan tersebut. Tapi tentu saja atas nama pribadinya masing-masing. Ada yang seniman, teknokrat, ekonom, dan sebagainya. Wah semakin semerawut saran dan kritiknya. Padahal yang di perdebatkan bukan sesuatu yang mempunyai nilai pasti yang bersifat metamatis. Semuanya hanya perkiraan, atau boleh dibilang hanya sebuah interpretasi gue yang memberikan saran.

Dalam dunia desain hal-hal seperti itu sering terjadi, dan tentu semuanya sangat wajar, sepanjang masih dalam jalur metodologi kerja yang baik. Akan tetapi terkadang sang desainer terpojok oleh keadaan posisi yang boleh dibilang hanya sebagai karyawan yang tidak punya otoritas. Sehingga keputusan estetis terkadang harus banyak mengalah, sampai pada tingkatan terjerumus kepada hanya sebatas memuaskan keinginan atasan. Keadaan ini sangat disayangkan, karena pertanggungjawaban secara disiplin ilmu sama sekali tidak ada. Semuanya mengerikan bagi saya, bagaimana tidak seorang desainer boleh dibilang tidak menikmati hasil karyanya sendiri. Sedangkan yang seharusnya dia harus menikmatinya dengan penuh pertangungjawaban secara profesi.

Sebuah upaya pencarian solusi, ketika harus melibatkan banyak elemen harusnya mampu menciptakan sebuah kesepakatan yang bias dinikmati bersama. Tapi memang sangat disayangkan ada sebagian industri yang memposisikan hanya sebagai setter estetika selera dari pimpinan saja, sehingga penghargaan terhadap dunia profesinya boleh dikatakan tidak ada. Seolah-olah desainer hanya seseorang yang tidak mengerti apa-apa, hanya bisa mengoperasikan komputer saja, dan hanya dilibatkan secara teknis belaka. Ada ketidak mengertian, sebenarnya sekolah desain itu mempelajari apa aja sih?

Padahal seandainya mengerti dunia profesi ini, mungkin penghargaan kepada seorang desainer akan lebih meningkat. Bagaimana tidak seorang desainer yang selalu dituntut untuk menjadi seorang problem solver, seorang stylist, ataupun seorang trendseter, hanya dianggap sebagai seseorang yang hanya bergantung kepada bakat, bekerja mengandalkan mood yang harus dikendalikan, sehingga sama sekali dianggap tidak terlalu mengenal dunia ilmiah, sebagaimana bidang profesi lain yang sudah lebih dulu bermasyarakat. Tentu pandangan ini sangat keliru, karena dunia desain sangat ilmiah, dan tidak hanya mengandalakan intuisi saja.

Seorang desainer sama kedudukannya dengan seorang ilmuan yang dituntut banyak tahu dalam segala hal. Dari mulai dunia politik hingga dunia bisnis. Dalam ruang lingkup kajian desain tidak heran dipelajari banyak bidang keilmuan yang selalu bersinggungan, diantaranya dunia psikologi, sosiologi, filsafat, antropologi, marketing, dan sebagainya. Semuanya diberikan untuk membekali para desainer, sehingga mereka mampu memperkuat konsep berfikir dalam berkarya. Sehingga seluruh karya yang dibuat harus mampu mewakili dunia keprofesiannya, dan jatidiri tentunya. Sehingga peleburan kedua idelisme itu terjadi sangat cantik, yang tentu akan menghasilkan karya yang cantik pula.

Fenomena maraknya kursus-kursus yang tidak membekali keilmuan untuk membekali konsep berfikir sebagai seorang desainer, menyebabkan lahir banyak karya yang kurang bisa dipertanggungjawabkan, secara profesi, juga lemah dari nilai estetika maupun visibilitas. Semua ini menjadi persoalan tersendiri dalam ruang lingkup dunia desain, yang menjadi tanggung jawab bersama untuk saling memberikan kontribusi menuju keadaan lebih baik.

Posted at di 5:49 PM on Tuesday, January 29, 2008 by Diposting oleh Heri Sandi | 0 komentar   | Filed under: