Very Hot!!

Tiap hari sering banget liat perempuan berjilbab tapi bikin panas dingin, luar dalem, waaaah veryhooot!. Sebagai laki-laki normal wah seneng bangeth tuh liat yang begituan. Lalu dengan bijaknya berkata gw kan observing, gak cuman liat pake nafsu doang heheh....Ktanya klo tidak salah ada semacam penelitian tentang penyakit disfungsi ereksi yang lagi in sekarang. Konon salah satu penyebabnya adalah kaum adam terlalu sering melihat aroma-aroma sensual yang ketika itu berproses tidak mencapai titik puncak (ngerti ndiri deh hehe). Kita semua sadar bahwa sang penabur aroma ekspos libido tentu tidak bisa melayani semua audience untuk terpuaskan secara
seksual...wah-wah maaf klo terlalu vulgar. Ini menjadi menarik bagi saya bahwa ternyata hal-hal semacam itu sudah menjadi sangat biasa di era sekarang. Dimana kebebasan berekspresi tiap individu sudah semakin tidak terbatas. Mode pakaian, aksesoris dan lain sebagainya menjadi suatu hal yang sangat kompetitif antar individu.

Maaf karena saya masih belom berkeluarga, orang sering nanya tentang kriteria pasangan hidup ideal yang akan dipilih. Kemudian sudah menjadi kesepakatan bersama pilihan selalu yang terlontar dua pilihan, baik ato buruk tentunya. Terus karena memang saya seorang muslim, pasti yang berilbab menjadi pilihan yang utama direkomendasikan. Dari kenyataan ini ternyata memang kita sangat khas sebagai orang indo yang cenderung penilaian selalu berprioritas pada penampilan. Makanya tidak heran kita sering banget jadi korban penipuan yah, gampang percaya, dan gampang
narik kesimpulan. Makanya klo dilontarkan pertanyaan itu justru seringmemilih yang baik ajah, daripada hanya sekedar melihat berkerudung dan tidak berkerudung. Karena penilaianku masalah packaging tidak terlalu menjadi persoalan yang gimana gituh heheh.... Karena sekarang sulit sekali menilai orang hanya dengan melihat tampilan luar kita langsung narik kesimpulan. Lawong buktinya yang bersuami istri saja perlu tahunan hanya untuk mengenal karakter pasangan dan menyimpulkannya. Padahal kan ditidurin tiap hari lho, susah juga yah menarik kesimpulan orang terdekat juga.

Ada kisah salah seorang sahabat yang sering bepergian menggunakan pesawat, dia pernah bilang, klo dibandara kita misalnya terlupa bawa sesuatu yang bikin alarm berbunyi kemudian kita berpakaian lusuh macem preman, dijamin kita akan diperlakukan seperti bangsat! Tapi klo kita rapi macem anggota dewan wah tenang ajah, mereka pasti sangat sopan dan bilang "maaf pak kami akan....."Makanya beruntunglah anda yang punya habit seneng berpakaian rapi, keliatan santun, dsb anda mendapat tempat yang luas tinggal di indonesia hehe. Tapi yang punya selera pemberontak anda jangan harap, pokoknya ati-ati biasanya persepsi buruk sulit dibuang. Terus pikiran ini
mengembara ke lain hal, klo demikian apa yang menjadi tolok ukur kesopanan, baik dalam bertutur maupun berpakaian. Setiap kita punya semacam kesepakatan sosial yang berbeda-beda dalam mengukur ini semua. Bahkan saya menemukan ada semacam budaya yang sangat sopan di kalangan bawah, tapi luar bisa tidak cocok klo misalkan diaplikasikan di level menengah atas. Dalam psikologi yang namanya persepsi banyak sekali dipengaruhi oleh faktor, pendidikan, lingkungan sosial, usia dan sebagainya. Jadi tidak ada nilai matematis yang bisa kita lontarkan untuk mengukur itu semua,
sangat fleksibel. Dan masalah ini sudah sejak dulu dirumuskan, namun pada pelaksanaannya kita cenderung mengikuti naluri pribadi sepertinya.

Tuhan begitu tegas memfirmankan bahwa baik-buruk seseorang, mulya-hina seseorang hanya ditentukan dengan keimanan dan ketaqwaannya. Tidak dari penampilannya dan lain sebagainya. Ini sangat bertentangan dengan kita, bahwa yang terbaik rata-rata menurut kita adalah yang beken, cantik fisik, banyak duit, dsb. Klo begini, sebenarnya orang jelek, butut, bau, miskin, dsb, tidak punya tempat sebenarnya di dunia ini. Karena manusia hanya mau hidup dengan keadaan yang serba baik. Makanya jangan bersedih wahai kaum marginal ketika anda mendapatkan jodoh yang tidak selevel
tantangannya luar biasa hidup mati tuh :D, terus yang miskin-miskin susah ngurus administrasi. Yang bodo-bodo sering jadi diolok-olok, bahkan jadi objek bisnis, yang jelek-jelek sering diketawain eh tapi gampang cari duit. Klo yang gak pernah pakai dan gak punya pakaian bagus, klo anda nyelonong ke lobby hotel berbintang, terus anda disangka pengemis jangan sakit hati, itu resiko anda heheh...

Emang susah juga yah jadi orang yang berbeda, beda ekonomi, beda mode, beda wajah heheh....butut semua kayaknya. Pantesan kurang diterima di masayarakat, ternyata memang aq gak masuk seleksi, ternyata jadi rakyat juga harus ikut seleksi yah, kayak anggota dewan ajah hehe, makanya untuk supaya lebih mendapat posisi dalam hidup saran saya tingkatkan kualitas hidup anda, cobalah untuk menjadi pinter, menjadi kaya, menjadi bersih dan rapi, dsb, ntar jadi pada deket tuh, yang gak kenal ajah ngaku ipar hehehe....yuukk!

Posted at di 8:54 PM on Wednesday, October 22, 2008 by Diposting oleh Heri Sandi | 0 komentar   | Filed under:

Memberi vs Menerima

Setiap hidup apapun keadaannya adalah sebuah pilihan, begitu orang sering bilang.Setiap kita dalam menjalani kehidupan tentu mempunyai sebuah tujuan. Setiap tujuan manusia tidak terlepas dari konsep diri. Kebahagiaan
adalah sebuah tujuan tertinggi setiap individu manusia begitu katanya. Tidak ada manusia yang senang hidup dengan penderitaan di dunia ini, semuanya ingin bahagia, terkait jasmaninya maupun rohaninya.

Banyak cara manusia meraih hal tersebut, ada yang berburu harta, tahta sebanyak-banyaknya dengan segala macam cara ditempuhnya.Sikut kiri-kanan peras keringat banting tulang,kawan jadi lawan, langgar aturan dan sebagainya.Karena dirinya berpendapat bahwa harta,pangkat,jabatanlah yang mampu membahagiakan dirinya.Namun ada juga yang memperbanyak karya dalam hidupnya demi memanusiakan dirinya.Karena dengan berbuat hal itu dirinya berpendapat bahwa kebahagiaan akan mampu diraihnya.Dengan karya yang mampu menjadikan kehidupan manusia disekelilingnya lebih baik, dan dengan nilai-nilai itu berharap meraih investasi untuk hari dimana dia dibangkitkan menuju kehidupan yang lebih kekal.

Semua aktivitas, apapun bentuknya dilakukan manusia untuk memuaskan keinginannya.Setidaknya ada satu nilai yang menjadi catatan, bahwa kita tidak terlepas dari aktivitas memberi dan menerima. Kebanyakan manusia senang menuntut sesuatu kepada orang lain. Apalagi terkait dengan sesuatu yang sulit dirinya raih. Keinginan mendapatkan sesuatu dengan cara mudah sepertinya hampir semua manusia berkeinginan seperti itu. Makanya tidak heran dalam kehidupan ini mayoritas manusia lebih banyak menuntut daripada berkontribusi dalam kehidupan.

Menciptakan kesadaran lebih banyak memberi dalam diri kita bukanlah hal yang mudah, namun juga bukan hal yang terlalu sulit untuk dilakukan. Sebuah komitmen dalam hal apapun sangat diperlukan, termasuk komitmen yang satu ini. Dengan segala keterbatasan kita adalah satu perbuatan mulia ketika kita hidup berusaha untuk lebih banyak memberi daripada menerima, baik berupa harta,karya, tahta, fikiran dan lain sebagainya. Kebahagian sejati adalah ketika melihat orang lain bahagia, dan adalah sebuah kesenangan tersendiri ketika melihat kehidupan ini semakin hari semakin lebih baik, mudah-mudahan semakin kita banyak berkontribusi dalam kehidupan kita, siapapun, apapun yang ada di sekeliling kita setiap hari merasakan manfaatnya dan tentunya menuju keadaan yang lebih baik,itu tentu yang kita harapkan.

Posted at di 6:12 PM on Tuesday, October 14, 2008 by Diposting oleh Heri Sandi | 0 komentar   | Filed under:

Mana bedanya yang baek ma yang buruk ya?

Setiap manusia pada dasarnya dalam kehidupan selalu dituntut untuk mengambil sebuah keputusan setiap waktunya. Membuat sebuah pilihan dalam hidup, terkadang tidak serta merta menjadi perbuatan yang begitu mudah untuk dilakukan setiap manusia. Setiap kita bebas menentukan sebuah pilihan dalam hidup. Yang baik dan yang buruk dengan bebas bisa kita pilih menurut selera kita masing-masing. Setiap manusia adalah unik, peribahasa mengatakan setiap kepala boleh sama hitam rambutnya, namun buah fikiran setiap kepala jelas pasti berbeda.

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, kita sering dilibatkan dalam sebuah kompetisi berebut kursi kepemimpinan. Menentukan seseorang menjadi posisi yang kita inginkan, yang tentu daripadanya kita menaruh harapan. Walaupun terkadang kita sangat berlebihan dalam melakukannya. Semuanya tentu berpulang kepada keadaan dimana kita harus menentukan pilihan, apakah baik buruk, amanah tidak amanah, cantik tidak cantik, atau berwibawa tidak berwibawa. Semuanya mempunyai persepsi yang berbeda dalam menentukan pilihan ini.

Membedakan antara yang menurut kita buruk atau baik, bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Banyak tantangan yang mesti kita lewati sebelum menentukan konklusi. Apakan itu menyangkut keuntungan yang kita peroleh secara pribadi, atau keuntungan lain yang setidaknya mampu membuat sebuah keadaan menjadi lebih baik. Kenyataan ini memang hal yang wajar, ketika kita menetukan pilihan tentu ada keuntungan yang ingin kita peroleh setelah kita menetukan pilihan itu, baik sedikit maupun banyak. Jarang diantar kita berharap sesuatu yang buruk dari keputusan yang diambilnya, semuanya ingin memperoleh nilai positif.

Dalam masa sekarang dimana teknologi informasi yang berkembang begitu pesat, kita sering terombang ambing dengan sebuah pernyataan. Dimana beragam kepentingan yang begitu dominan dari belakang setiap informasi yang kita peroleh. Setiap kita yang berjiwa optimis tentu sulit menghindar dari keadaan ini, dimana kita mau tidak mau harus menjadi bagian dari keadaan itu. Sebuah informasi yang salah menurut para pakar media ketika dibombardir secara terus menerus, maka akan berubah menjadi suatu informasi yang dianggap benar, dan begitupun sebaliknya. Kita mungkin sedikit tersadar dengan keadaan ini, sebagaimana ketika kita melakukan perbuatan dosa yang kita lakukan berulang kali, akan berubah menjadi sesuatu yang dianggap biasa, bahkan lebih parah lagi menjadi sesuatu yang kita anggap tidak berdosa sama sekali.

Dimasa sekarang banyak diantara kita yang mengidolakan seorang figur yang menurut pribadinya bisa merepresentasikan dirinya. Baik secara fisik, pemikiran, perinsip, dan lain sebagainya. Ketika seorang pribadi mengidolakan seseorang, dia cenderung dominan lebih melihat sebuah sisi dimana pribadinya merasa terwakili, baik secara fisik maupun psikologis. Sehingga apa yang dinamakan bahasa spiritual sebagai taklid buta sering terjadi. Seseorang akan berusaha menempatkan idolanya dalam posisi terbaik, bahkan tidaksegan-segan menutup mata dan telinganya untuk tidak mendengar dan melihat keburukan dalam diri idolanya. Persetan dengan ungkapan orang lain idolaku tetap yang terbaik segalanya.

Fenomena ini bukan hal yang aneh dijaman sekarang ketika setiap manusia berusaha mencari sosok nyata untuk menaruh harapan yang bisa di idolakan. Banyak sekali terjadi dimana secara sosial dan spiritual seseorang dianggap sebagai biang kerok, namun disisi yang lain dia menjadi seseorang yang dielu-elukan oleh sekian ribu orang sebagai pahlawan yang patut diberi penghargaan. Disisi yang lain sebaliknya yang secara sosial spritual dianggap sebagai seseorang yang dianggap baik, namun karena aku tidak menyukainya, aku bersumpah untuk membencinya seumur hidupku. Disebuah negara yang baik katanya seorang yang salah harus dihukum, namun di sebuah negara yang dzalim maka seseorang yang benar yang harus dihukum. Kejadian ini bukan semata hanya sebuah wacana namun nyata terjadi di sekitar kita. Ada sebuah kelompok yang berusaha mati-matian membela seseorang tokoh yang dianggap idolanya untuk menempatkannya ke posisi yang terbaik dan terhormat.

Mungkinkah dari beragam fenomena ini kita memang sangat merindukan seorang pahlawan yang mampu merepresentasikan diri kita? katanya jika memang ini terjadi, begitu sangat menyedihkan sekali diri kita ini. Sehingga kita berusaha melahirkan pahlawan-pahlawan yang menurut kita layak. Taklid buta, atau sekedar ikut-ikutan, atau hanya terpesona penampilan fisiknya semata menjadi sebuah alasan untuk menentukan pilihan bahwa dia layak jadi pahlawan dan idolaku. Yang lebih parah lagi banyak individu yang berasa layak menjadi pahlawan, sehingga tidak segan-segan mengangkat dirinya sendiri sebagai pahlawan yang barang tentu sudah kesiangan. Sungguh menyedihkan keadaan ini, yang baik dan yang buruk sudah membaur dan sulit dibedakan. Persepsi kita menjadi kacau balau dengan gempuran beragam informasi yang begitu luar biasa. Banyak orang menangis dan tertawa tanpa kesadaran penuh, semuanya menjadi sangat klise. Seremonial menjadi sesuatu yang sakral,sebaliknya yang sakral dan esensial malah menjadi sesuatu hal yang banal......

Posted at di 8:38 PM on Sunday, October 12, 2008 by Diposting oleh Heri Sandi | 0 komentar   | Filed under: