Keyakinan

Memelihara sebuah keyakinan dalam diri kita, merupakan tugas yang tidak ringan. Apakah menyangkut keyakinan yang bersifat spiritual, maupun yang bersifat psikologis. Dalam menjalani pemeliharaan keyakinan, tak kurang kita harus banyak berkorban untuk menjalaninya. Apakah itu korban harta, perasaan, bahkan nyawa sekalipun. Untuk mempertahankan keyakinan, setiap orang punya ekspresinya masing-masing, dari mulai yang mampu berteriak lantang, sampai yang merenung berdiam diri bertafakur. Banyak hal yang sangat menarik dalam pola kehidupan kita pada umumnya. Setiap orang merasa harus berontak ketika keyakinannya merasa terganggu. Terlepas apakah itu hanya sebuah lelucon yang sengaja diciptakan untuk menyulut emosi, ataupun yang diciptakan memang serius dan ilmiah dalam rangka mengusik keyakinan orang lain.

Setiap orang punya keyakinan masing-masing,karena kita sepakat bahwa hal tersebut merupakan hak setiap individu. Tidak ada yang berhak memaksakan sebuah keyakinan kepada orang lain, karena telah melanggar sebuah kesepakatan bersama. Hanya dirinya lah yang berhak menentukan arah mana yang hendak dia pilih untuk menentukan keyakinan itu.

Berawal dari sebuah keyakinan, seseorang mampu merealisasikan kehidupannya dengan seperti apa yang diyakininya. Hal itu menyangkut seluruh aspek kehidupannya, dari mulai kehidupan spiritualnya, kesuksesannya, ketenarannya, dan lain sebagainya. Aspek keyakinan begitu penting dalam menentukan keberhasilan hidup kita. Banyak orang gagal menghadapi kehidupannya karena kurang keyakinan dalam menjalaninya. Hal ini sepertinya sepele, tapi luar biasa efeknya. Maka dari itu mari kita tanamkan keyakinan-keyakinan positif dalam diri kita, mengenai kehidupan ini. Jangan sekali-kali pernah mempunyai anggapan negatif dalam diri kita tentang hal apapun. Karena anggapan negatif itu besar kemungkinan akan berwujud dalam kehidupan kita. Kalau windows mengatakan "what you see is what you get, kita juga bisa mengatakan what you think is what you get. Ini sesuai ketentuan Alloh, bahwa Alloh berfirman " Aku sesuai dengan prasangka Hamba-Ku"...

Posted at di 7:02 PM on Sunday, May 18, 2008 by Diposting oleh Heri Sandi | 0 komentar   | Filed under:

Filosofi Pecahan Piring

Bagaimana seandainya sebuah piring pecah menjadi dua bagian, kemudian dia bertemu dengan pecahannya itu, dan masing-masing pecahannya tidak saling mengetahui bahwa mereka itu sebenarnya satu bagian yang pernah terpisahkan dengan dinding ruang dan waktu. Mungkin mereka selamanya tidak akan pernah saling bersatu lagi, seandainya mereka tidak saling "merepresentasikan" dirinya masing-masing antara satu sama lain, sehingga diantara mereka timbul keyakinan yang memang saling membenarkan bahwa sebenarnya mereka itu satu bagian, yang suatu saat saling membutuhkan dan tidak ada pengganti selain diantaranya. Mereka harus bersatu tidak boleh tidak, itu kehendak yang maha mengetahui.


Pada hakekatnya kehidupan itu sebuah pencarian, termasuk mencari pecahan dirinya dan itu akan terus berlangsung selama dia masih bernafas. Pencarian belahan diri akan berhenti ketika belahannya itu di temukan. Keafdolan kebenaran belahan diri itu bisa diketahui ketika satu sama lain memperlihatkan kelancipan dan ketumpulan berkas pecahannya. Apabila kelancipan dan ketumpulan itu pas menyatu dengan presisi maka tidak akan ada benturan yang bisa merepresentasikan kembali keraguan kebenaran belahan mereka yang mampu melahirkan ketidak percayaan dan saling menuduh, dirasa ada tipu muslihat di antara mereka....toh saling mengisi itu (baik->buruk) adalah intinya.


Mungkin analogi belahan piring ini terlalu naif, namun demikian kehidupan, ketika sebuah pertemuan berlangsung antara pribadi berbeda lawan jenis, kemudian menyatakan kesediaan untuk bersatu saling mengisi dalam kehidupan, mereka tak beda dengan bagian sisi yang terpecah dari sebuah piring yang pasti saling mengisi. Saya mencoba memahami analogi ini untuk suatu ketika menjalankan roda kehidupan yang bernama keluarga. Agama mengajarkan tak ubahnya kedua pasangan ini seperti pakaian untuk keduanya, dimana istri merupakan pakaian bgi suami dan begitupun sebaliknya. Begitu indah agama menganalogikan bagaimana kelebihan menyempurnakan kekurangan.


Saling melengkapi kekurangan adalah salah satu tugas dalam berkeluarga sehingga relasi "kita" memang benar berfungsi dengan baik. Tidak ada manusia yang sempurna, tidak ada gading yg tak retak, begitu peribahasa menyebutkan, toh terkadang yang retak itu lebih artistik daripada yang mulus tanpa cacat. Tuhan tidak pernah menciptakan garis lurus yang presisi, karena tuhan maha tahu akan makhluknya yg bernama manusia yang tentu akan merasa jenuh ketika harus memandangi sebuah hal yang monoton. Maka Tuhan menciptakan garis-garis hidup yang dinamis, dimana diditu ada lekukan, cembungan, tebal tipis, kontur, dsb. Begitu ekspresip tuhan menciptakan itu semua, karena kesayangan kepada makhluk ciptaan-Nya yaitu kita manusia dan seluruh ekosistem di dalamnya.


Banyak bentuk syukur yang bisa kita realisasikan dalam hidup kita. Memelihara apa yang telah dianugerahkan kepada kita, dan memanfaatkannya dengan baik sesuai kehendak-Nya adalah salah satunya. Mensyukuri pasangan hidup kita, dan mensyukuri segala sesuatu yang berada di sekitar kita yang menunjang kehidupan kita, tentu wajib kita lakukan. Begitu nikmat hidup yang hanya sekali ini jangan pernah disia-sia kan.

Posted at di 12:16 AM on Wednesday, May 14, 2008 by Diposting oleh Heri Sandi | 0 komentar   | Filed under:

Keyakinan

Memelihara sebuah keyakinan dalam diri kita, merupakan tugas yang tidak ringan.Apakah menyangkut keyakinan yang bersifat spiritual, maupun yang bersifat psikologis. Dalam menjalani pemeliharaan keyakinan, tak kurang kita harus banyak berkorban untuk menjalaninya. Apakah itu korban harta, perasaan, bahkan nyawa sekalipun. Untuk mempertahankan keyakinan, setiap orang punya ekspresinya masing-masing, dari mulai yang mampu berteriak lantang, sampai yang merenung berdiam diri bertafakur. Banyak hal yang sangat menarik dalam pola kehidupan kita pada umumnya. Setiap orang merasa harus berontak ketika keyakinannya merasa terganggu. Terlepas apakah itu hanya sebuah lelucon yang sengaja diciptakan untuk menyulut emosi, ataupun yang diciptakan memang serius dan ilmiah dalam rangka mengusik keyakinan orang lain.

Setiap orang punya keyakinan masing-masing,karena kita sepakat bahwa hal tersebut merupakan hak setiap individu. Tidak ada yang berhak memaksakan sebuah keyakinan kepada orang lain, karena telah melanggar sebuah kesepakatan bersama. Hanya dirinya lah yang berhak menentukan arah mana yang hendak dia pilih untuk menentukan keyakinan itu. Berawal dari sebuah keyakinan, seseorang mampu merealisasikan kehidupannya dengan seperti apa yang diyakininya. Hal itu menyangkut seluruh aspek kehidupannya, dari mulai kehidupan spiritualnya, kesuksesannya, ketenarannya, dan lain sebagainya.

Aspek keyakinan begitu penting dalam menentukan keberhasilan hidup kita. Banyak orang gagal menghadapi kehidupannya karena kurang keyakinan dalam menjalaninya. Hal ini sepertinya sepele, tapi luar biasa efeknya. Maka dari itu mari kita tanamkan keyakinan-keyakinan positif dalam diri kita, mengenai kehidupan ini. Jangan pernah mempunyai anggapan negatif dalam diri kita tentang hal apapun. Karena anggapan negatif itu besar kemungkinan akan berwujud dalam kehidupan kita. Kalau windows mengatakan "what you see is what you get, kita juga bisa mengatakan what you think is what you get. Ini sesuai ketentuan Alloh, bahwa Alloh berfirman " Aku sesuai dengan prasangka Hamba-Ku"..........

Posted at di 4:09 AM on Thursday, May 8, 2008 by Diposting oleh Heri Sandi | 0 komentar   | Filed under: