Mahkluk Paling Kreatif Sedunia

Suatu saat ada kegiatan kunjungan anak-anak TK, riuh rendah suara anak-anak, ada yang berteriak, ada yang berbisik, ada juga yang diam terpaku. Melihat sekian banyak karakter anak-anak di depan mata, seakan melihat nasib bangsa di masa yang akan datang. Lima, sepuluh, atau tiga puluh tahun yang akan datang mereka akan naik panggung untuk mengemban amanah meneruskan kehidupan berbangsa dan bernegara. Siapapun di dunia ini tidak ada yang ingin menghapus memori masa kanak-kanak walaupun mengalami kehidupan yang pahit. Dunia seakan tidak begitu indah tanpa kehadiran makhluk yang namanya anak-anak. Dunia dimana siapapun tidak ada yang dilarang untuk berbuat sesuatu. Api jadi sahabat, benda tajam jadi sesuatu yang sangat menarik untuk dipegang. Tidak ada yang membuatku takut, tidak ada yang menghalangiku untuk berbuat sesuatu semauku. Aku begitu bebas, ini dunia milikku tak seorangpun boleh masuk, kecuali kamu lepaskan nilai logis dalam diri kamu.

Sebegitu bebasnya dunia anak-anak, seolah membawa diri ini terbang kemasa lalu, dimana aku begitu dicap sebagai mahluk paling kreatif di muka bumi. Itulah anak-anak, dengan segenap kelenturan imajinasinya mampu menciptakan apapun sesuai keinginannya. Pesawat terbang dari sapu ijuk, mobil-mobilan dari kursi tua yang usang, bahkan kuda-kuda an dari ayahnya sendiri yang ditumpangi. Semuanya berubah wujud dalam logika mereka. Ketakutan berbuat sesuatu tidak ada dalam kamus mereka, semuanya, apapun, tidak ada yang mampu menghambat untuk berbuat.

Tidak halnya dengan kita, makhluk dewasa, yang berlogika, tidak mampu berbuat banyak, seperti halnya mereka. Batasan-batasan yang kita ciptakan sendiri, telah mampu mengasingkan diri kita, menuju dunia yang begitu menakutkan. Dimana kita hanya diam terpaku, memelas mohon dikasihani, mengeluh tanpa alasan yang jelas. Banyak harapan berubah menjadi sesuatu yang tidak berguna, banyak waktu yang tidak begitu dihargai. Sering banyak bicara rencana, namun tanpa usaha yang nyata. Kita berniat untuk maju tapi takut melangkah dan lain sebagainya. Semuanya adalah dinding-dinding yang kita buat, untuk memenjarakan diri kita sendiri.

Dunia masih memerlukan tangan dingin kita untuk dihias, begitu banyak peluang berseliweran di depan mata kita, apakah kita hanya diam terpaku melihatnya. Tidak bisakah kita sekreatif ketika kita menjadi anak-anak? Mampukah kita masuk kembali kedunia mereka tanpa meninggalkan pakaian kedewasaan kita yang telah begitu jauh berubah. Anak-anak adalah kita yang telah menjadi dewasa, kita adalah anak-anak yang telah menjadi dewasa. Kita tidak hidup terpisah, kita menyatu sampai kapanpun. Mampu untuk masuk kedunia anak-anak, bukan berarti harus menjadi anak-anak.

Posted at di 2:57 AM on Wednesday, April 30, 2008 by Diposting oleh Heri Sandi | 0 komentar   | Filed under:

Sumber Ide

Sumber-sumber ide banyak sekali di sekeliling kita, mulai dari pengalaman yang bersifat pribadi, kolektif maupun hal-hal yang kita lihat sehari-hari. Kadang kita suka mempersulit diri dengan terlalu mengekang pada bahan-bahan yang bersifat “benda referensi”. Apakah itu berupa buku-buku portfolio, kliping dan sebagainya. Kadang kita lupa akan aset memori yang ada dalam otak kita. Begitu banyak data dalam kepala, namun kita kurang begitu cerdas merangsang, dan menyajikannya data-data tersebut.

Menghasilkan ide-ide cerdas orisinal, bukan sesuatu yang membungbung tinggi untuk diraih. Namun perlu perjuangan dan kerja keras untuk menyajikannya. Mulai dari faktor psikologis yang menyangkut rasa percaya diri dan keberanian, juga faktor kecerdasan intelektual yang jeli melihat inti persoalan. Ketika semua faktor bersinergi bekerjasama, maka ide-ide brilian tidak mustahil kita lahirkan.

Kita sering berdecak kagum dengan hasil karya orang lain, dan dengan spontan mulut kita berucap “gila keren banget”, namun kadang kita terlalu dimanja dengan hal-hal yang seperti itu, dimana kita hanya sebagai penikmat , sehingga kita lupa akan diri kita sendiri yang belum menghasilkan apa-apa. Kita sungguh dermawan memberi pujian akan-akan karya-karya fenomenal orang lain, tapi diri kita sendiri hanya seorang manusia yang tidak mampu menghasilkan apa-apa.

Harus kita sadari semua manusia sama, dilahirkan dengan segenap keistimewaan, yang diberikan Tuhan untuk menyelesaikan kehidupannya. Seluruh perangkat kreatif dalam diri kita begitu luar biasa, Kecanggihannya dapat dibuktikan dengan mampu bertahannya manusia untuk hidup di muka bumi sampai sekarang. Potensi-potensi ini seyogianya dirangsang untuk bangkit, tidak dibiarkan untuk tidur. Karena apabila raksasa ini bangun, niscaya kita mampu melukis seluruh daratan dunia ini dengan karya-karya luar biasa.

Mari kita pertajam fikiran kita, ingatan kita, penglihatan kita, rabaan kita, serta pendengaran kita, untuk lebih sensitif dan bisa melihat sesuatu yang tidak dilihat orang. Saatnya berbuat sesuatu ketika orang enggan untuk berbuat sesuatu. Kreatifitas tidak ada diluar diri kita namun selalu menyatu dalam diri kita.

Posted at di 11:11 PM on Monday, April 28, 2008 by Diposting oleh Heri Sandi | 0 komentar   | Filed under:

Pentingnya Proses dalam Dunia Kreatif

Bicara masalah kualitas, tidak terlepas dari sebuah proses. Dalam realitas kehidupan, kita selalu
terkait dengan yang namanya hasil dan proses. Sebuah hasil yang baik tentu tidak terlepas dari sebuah
poses yang baik pula. Hampir setiap orang dalam hal apapun selalu menginginkan hasil terbaik. Tidak
luput dari dunia desain juga. Setiap pekerjaan desain yang dibebankan kepada desainer, tentu ingin
hasilnya yang terbaik. Tak peduli itu apakah klien, boss, atau penikmat semata. Mereka akan sangat
keras berkomentar dengan hasil yang mereka lihat.

Ada satu hal yang terkadang mereka lupakan, bahwa menciptakan suatu kreatifitas yang berkualitas, tidak
terlepas dari eksplorasi kreativitas yang berkualitas juga. Ini terkadang mereka lupakan, apakah itu
sebuah eksperimen kreatif, research, atau apapun yang sifatnya mendukung penciptaan kreatifitas. Karena
sepertinya semua sepakat, desain yang baik, tidak hanya sebatas visual yang baik, namun diiringi dengan
konsep yang baik pula.

Banyak sekali institusi lokal level bawah, yang bergerak di bidang kreatif produk, yang mengabaikan
sebuah proses. Mereka berperinsip sangat kapitalis sekali, dengan modal sedikit-dikitnya, waktu sesempit-sempitnya, tapi hasil harus sebaik-baiknya. Mereka lupa yang namanya proses dari sebuah pekerjaan adalah penting, seperti halnya memutuskan naik tidaknya gaji seorang karyawan, juga melalui proses, dari mulai penilaian performa, sampai lamanya mengabdi. Tentu ini sangat disayangkan, ketidak pahaman sebuah institusi dalam mengorganisasi sebuah divisi kreatif.

Dari keadaan ini banyak sekali perilaku industri kreatif yang kurang bertanggung jawab lahir dan
akhirnya menjadi sebuah kebiasaan, dari mulai mengambil gambar milik orang lain seenaknya, bahkan yang
lebih parah lagi mencontek ide orang lain 100%. Sebagai orang yang bergerak di bidang kreatif tentu
merasa prihatin dengan keadaan ini. Semua kejelekan ini terkadang diwariskan kepada generasi
selanjutnya. Apakah bersifat peniruan atau kadang berupa anjuran dari pelaku sebelumnya.

Mari kita hargai sebuah proses, jangan dianggap sepele.Sebuah proses yang baik, tentu akan menghasilkan
kreatifitas yang baik pula. Setiap bidang keilmuan tentu mempunyai sebuah metodologi kerja yang menjadi
sebuah standar, dan tentunya dalam dunia kreatif pula tidak jauh berbeda, meskipun yang namanya
metodologi bisa bersifat flexibel.

Posted at di 12:14 AM on Friday, April 25, 2008 by Diposting oleh Heri Sandi | 0 komentar   | Filed under: