Membicarakan sesuatu yang sangat pribadi kepada orang lain adalah sangat tabu bagi saya. Apalagi kepada orang yang nyata-nyata baru dikenal, dan sebagai lawan bicara pun bisa-bisa menilai buruk diri kita. Bisa jadi kita jadi orang yang dianggap tidak bisa menyimpan rahasia, buktinya rahasia pribadi ajah di obral ma orang lain. Nah berkaitan dengan itu sekarang saya mo bicara hal-hal yang sangat pribadi heheh. Emang bener saya termasuk orang yang sukar menyimpan rahasia, apalagi rahasia yang ada duitnya heheh...
Ingin sedikit berbagi cerita dengan urusan yang namanya cinta wah sedaaaap....heheh. Kadang merasa heran dengan urusan yang namanya cinta ini, sesekali merangkul kuat sekali, namun disaat berbeda menjauh dan kadang malas mengejar. Alasannya sih sederahana ngapain sih ngurusin yang begituan, emang gak ada kerjaan lain apah! Wah normal nggak yah bila punya sifat seperti itu. Kemalasan ini kadang tak beralasan, sehingga emosi lah yang mendominasinya, haruskah ku berobat! Kayaknya merasa sakit lebih baik daripada merasa sehat padahal komplikasi heheh. Emmm....cinta-cinta luar biasa kekuatannya, sehingga saking luar biasanya, saya sering berbuat tolol gara-gara cinta. Benci tapi rindu, sebel tapi pengen ktemu malah ingin memeluknya dengan kuat...aduuuh aneh sih suka jadi begitu. Kalo ebiet G Ade bilang iblis apa yang merasuk gara-gara cinta, tentu saya juga mengatakan demikian, gak tau setan apa yang merasuk sehingga sering berbuat tolol, yang pasti aq sesali sesudahnya.
Rupanya makna cinta sendiri begitu luas, dari mulai menyayangi seorang gadis lugu berparas eksotis walaaah, mencintai sedan BMW seri terbaru, ampe mencintai jabatan mentereng dibelakang nama sendiri. Semuanya memacu tindakan yang kurang lebih aq anggap ketololan (ini versiku lo!). Kadang rasa malu yang begitu menahun dalam diri lenyap seketika, berganti keberanian yang memalukan aduuuuuh!....semuanya gara-gara cinta. Kadang juga jiwa terhormat yang dipupuk bertahun-tahun agar menjadi karakter, ancur lebur menjadi sikap murahan tak beretika...ck!ck!...emang malu-malu in bangeth sih semuanya. Klo semuanya sudah terlanjur terjadi kadang ingin mengubur diri dalam-dalam kedalam perut bumi agar orang melupakannya hiks! maluuuuuu!!
Makanya ati-ati ajah ma tmen-tmen yang lagi dipeluk rasa cinta yang amat sangat, jgn sampe bikin yang tolol and malu-maluin kayak saya. Ntar nyesel bangeth and 100% frustrasi deh heheh...Artinya walaupun kita lagi bercinta ria, jangan lupa mengontrol diri, bahwa rasa malu itu masih ada dan tata nilai etika juga masih terjaga. Kita harus sadar bahwa kita selalu kembali ke titik nol ketika merenung. Kejadian masa lalu mustahil untuk di buang begitu sajah. Toh itu menjadi sebuah memori yang terlalu kuat untuk dilupakan. Kalo kita mampu mengontrol semuanya kayaknya penyesalan yang selalu datang terlambat dapat kita minimalisir...Kalo sekarang anda lagi mencintai seseorang gadis bo yah jgn terlalu berlebihan, ampe lupa ma tetangga yang kelaparan. Klo misalkan BMW terbaru anda begitu mengkilat dan bikin susah tidur takut tergores, bo yah jgn gitu-gitu amat apalagi ampe lupa ibadah ma yang Kuasa gara-gara bersihin mobil. Klo otak anda encer luar biasa syukuri juga sebagaimana yang di haruskan yang maha kuasa sebelum skizofrenia menyerang. Emmm terus klo istri anda cantik dan soleh yah syukuri saja sambil tidak terlupa bahwa dia makhluk sementara yang sewaktu-waktu bisa diam membisu tak bernyawa. Jadi semuanya menuntut sikap proporsional yang tidak berlebihan. Duh ngomong kayak ustadz ajah nih...yuk ah! (lagi menasehati diri)
Cinta Memang Dahsyat!
Very Hot!!
Tiap hari sering banget liat perempuan berjilbab tapi bikin panas dingin, luar dalem, waaaah veryhooot!. Sebagai laki-laki normal wah seneng bangeth tuh liat yang begituan. Lalu dengan bijaknya berkata gw kan observing, gak cuman liat pake nafsu doang heheh....Ktanya klo tidak salah ada semacam penelitian tentang penyakit disfungsi ereksi yang lagi in sekarang. Konon salah satu penyebabnya adalah kaum adam terlalu sering melihat aroma-aroma sensual yang ketika itu berproses tidak mencapai titik puncak (ngerti ndiri deh hehe). Kita semua sadar bahwa sang penabur aroma ekspos libido tentu tidak bisa melayani semua audience untuk terpuaskan secara
seksual...wah-wah maaf klo terlalu vulgar. Ini menjadi menarik bagi saya bahwa ternyata hal-hal semacam itu sudah menjadi sangat biasa di era sekarang. Dimana kebebasan berekspresi tiap individu sudah semakin tidak terbatas. Mode pakaian, aksesoris dan lain sebagainya menjadi suatu hal yang sangat kompetitif antar individu.
Maaf karena saya masih belom berkeluarga, orang sering nanya tentang kriteria pasangan hidup ideal yang akan dipilih. Kemudian sudah menjadi kesepakatan bersama pilihan selalu yang terlontar dua pilihan, baik ato buruk tentunya. Terus karena memang saya seorang muslim, pasti yang berilbab menjadi pilihan yang utama direkomendasikan. Dari kenyataan ini ternyata memang kita sangat khas sebagai orang indo yang cenderung penilaian selalu berprioritas pada penampilan. Makanya tidak heran kita sering banget jadi korban penipuan yah, gampang percaya, dan gampang
narik kesimpulan. Makanya klo dilontarkan pertanyaan itu justru seringmemilih yang baik ajah, daripada hanya sekedar melihat berkerudung dan tidak berkerudung. Karena penilaianku masalah packaging tidak terlalu menjadi persoalan yang gimana gituh heheh.... Karena sekarang sulit sekali menilai orang hanya dengan melihat tampilan luar kita langsung narik kesimpulan. Lawong buktinya yang bersuami istri saja perlu tahunan hanya untuk mengenal karakter pasangan dan menyimpulkannya. Padahal kan ditidurin tiap hari lho, susah juga yah menarik kesimpulan orang terdekat juga.
Ada kisah salah seorang sahabat yang sering bepergian menggunakan pesawat, dia pernah bilang, klo dibandara kita misalnya terlupa bawa sesuatu yang bikin alarm berbunyi kemudian kita berpakaian lusuh macem preman, dijamin kita akan diperlakukan seperti bangsat! Tapi klo kita rapi macem anggota dewan wah tenang ajah, mereka pasti sangat sopan dan bilang "maaf pak kami akan....."Makanya beruntunglah anda yang punya habit seneng berpakaian rapi, keliatan santun, dsb anda mendapat tempat yang luas tinggal di indonesia hehe. Tapi yang punya selera pemberontak anda jangan harap, pokoknya ati-ati biasanya persepsi buruk sulit dibuang. Terus pikiran ini
mengembara ke lain hal, klo demikian apa yang menjadi tolok ukur kesopanan, baik dalam bertutur maupun berpakaian. Setiap kita punya semacam kesepakatan sosial yang berbeda-beda dalam mengukur ini semua. Bahkan saya menemukan ada semacam budaya yang sangat sopan di kalangan bawah, tapi luar bisa tidak cocok klo misalkan diaplikasikan di level menengah atas. Dalam psikologi yang namanya persepsi banyak sekali dipengaruhi oleh faktor, pendidikan, lingkungan sosial, usia dan sebagainya. Jadi tidak ada nilai matematis yang bisa kita lontarkan untuk mengukur itu semua,
sangat fleksibel. Dan masalah ini sudah sejak dulu dirumuskan, namun pada pelaksanaannya kita cenderung mengikuti naluri pribadi sepertinya.
Tuhan begitu tegas memfirmankan bahwa baik-buruk seseorang, mulya-hina seseorang hanya ditentukan dengan keimanan dan ketaqwaannya. Tidak dari penampilannya dan lain sebagainya. Ini sangat bertentangan dengan kita, bahwa yang terbaik rata-rata menurut kita adalah yang beken, cantik fisik, banyak duit, dsb. Klo begini, sebenarnya orang jelek, butut, bau, miskin, dsb, tidak punya tempat sebenarnya di dunia ini. Karena manusia hanya mau hidup dengan keadaan yang serba baik. Makanya jangan bersedih wahai kaum marginal ketika anda mendapatkan jodoh yang tidak selevel
tantangannya luar biasa hidup mati tuh :D, terus yang miskin-miskin susah ngurus administrasi. Yang bodo-bodo sering jadi diolok-olok, bahkan jadi objek bisnis, yang jelek-jelek sering diketawain eh tapi gampang cari duit. Klo yang gak pernah pakai dan gak punya pakaian bagus, klo anda nyelonong ke lobby hotel berbintang, terus anda disangka pengemis jangan sakit hati, itu resiko anda heheh...
Emang susah juga yah jadi orang yang berbeda, beda ekonomi, beda mode, beda wajah heheh....butut semua kayaknya. Pantesan kurang diterima di masayarakat, ternyata memang aq gak masuk seleksi, ternyata jadi rakyat juga harus ikut seleksi yah, kayak anggota dewan ajah hehe, makanya untuk supaya lebih mendapat posisi dalam hidup saran saya tingkatkan kualitas hidup anda, cobalah untuk menjadi pinter, menjadi kaya, menjadi bersih dan rapi, dsb, ntar jadi pada deket tuh, yang gak kenal ajah ngaku ipar hehehe....yuukk!
Memberi vs Menerima
Setiap hidup apapun keadaannya adalah sebuah pilihan, begitu orang sering bilang.Setiap kita dalam menjalani kehidupan tentu mempunyai sebuah tujuan. Setiap tujuan manusia tidak terlepas dari konsep diri. Kebahagiaan
adalah sebuah tujuan tertinggi setiap individu manusia begitu katanya. Tidak ada manusia yang senang hidup dengan penderitaan di dunia ini, semuanya ingin bahagia, terkait jasmaninya maupun rohaninya.
Banyak cara manusia meraih hal tersebut, ada yang berburu harta, tahta sebanyak-banyaknya dengan segala macam cara ditempuhnya.Sikut kiri-kanan peras keringat banting tulang,kawan jadi lawan, langgar aturan dan sebagainya.Karena dirinya berpendapat bahwa harta,pangkat,jabatanlah yang mampu membahagiakan dirinya.Namun ada juga yang memperbanyak karya dalam hidupnya demi memanusiakan dirinya.Karena dengan berbuat hal itu dirinya berpendapat bahwa kebahagiaan akan mampu diraihnya.Dengan karya yang mampu menjadikan kehidupan manusia disekelilingnya lebih baik, dan dengan nilai-nilai itu berharap meraih investasi untuk hari dimana dia dibangkitkan menuju kehidupan yang lebih kekal.
Semua aktivitas, apapun bentuknya dilakukan manusia untuk memuaskan keinginannya.Setidaknya ada satu nilai yang menjadi catatan, bahwa kita tidak terlepas dari aktivitas memberi dan menerima. Kebanyakan manusia senang menuntut sesuatu kepada orang lain. Apalagi terkait dengan sesuatu yang sulit dirinya raih. Keinginan mendapatkan sesuatu dengan cara mudah sepertinya hampir semua manusia berkeinginan seperti itu. Makanya tidak heran dalam kehidupan ini mayoritas manusia lebih banyak menuntut daripada berkontribusi dalam kehidupan.
Menciptakan kesadaran lebih banyak memberi dalam diri kita bukanlah hal yang mudah, namun juga bukan hal yang terlalu sulit untuk dilakukan. Sebuah komitmen dalam hal apapun sangat diperlukan, termasuk komitmen yang satu ini. Dengan segala keterbatasan kita adalah satu perbuatan mulia ketika kita hidup berusaha untuk lebih banyak memberi daripada menerima, baik berupa harta,karya, tahta, fikiran dan lain sebagainya. Kebahagian sejati adalah ketika melihat orang lain bahagia, dan adalah sebuah kesenangan tersendiri ketika melihat kehidupan ini semakin hari semakin lebih baik, mudah-mudahan semakin kita banyak berkontribusi dalam kehidupan kita, siapapun, apapun yang ada di sekeliling kita setiap hari merasakan manfaatnya dan tentunya menuju keadaan yang lebih baik,itu tentu yang kita harapkan.
Mana bedanya yang baek ma yang buruk ya?
Setiap manusia pada dasarnya dalam kehidupan selalu dituntut untuk mengambil sebuah keputusan setiap waktunya. Membuat sebuah pilihan dalam hidup, terkadang tidak serta merta menjadi perbuatan yang begitu mudah untuk dilakukan setiap manusia. Setiap kita bebas menentukan sebuah pilihan dalam hidup. Yang baik dan yang buruk dengan bebas bisa kita pilih menurut selera kita masing-masing. Setiap manusia adalah unik, peribahasa mengatakan setiap kepala boleh sama hitam rambutnya, namun buah fikiran setiap kepala jelas pasti berbeda.
Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, kita sering dilibatkan dalam sebuah kompetisi berebut kursi kepemimpinan. Menentukan seseorang menjadi posisi yang kita inginkan, yang tentu daripadanya kita menaruh harapan. Walaupun terkadang kita sangat berlebihan dalam melakukannya. Semuanya tentu berpulang kepada keadaan dimana kita harus menentukan pilihan, apakah baik buruk, amanah tidak amanah, cantik tidak cantik, atau berwibawa tidak berwibawa. Semuanya mempunyai persepsi yang berbeda dalam menentukan pilihan ini.
Membedakan antara yang menurut kita buruk atau baik, bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Banyak tantangan yang mesti kita lewati sebelum menentukan konklusi. Apakan itu menyangkut keuntungan yang kita peroleh secara pribadi, atau keuntungan lain yang setidaknya mampu membuat sebuah keadaan menjadi lebih baik. Kenyataan ini memang hal yang wajar, ketika kita menetukan pilihan tentu ada keuntungan yang ingin kita peroleh setelah kita menetukan pilihan itu, baik sedikit maupun banyak. Jarang diantar kita berharap sesuatu yang buruk dari keputusan yang diambilnya, semuanya ingin memperoleh nilai positif.
Dalam masa sekarang dimana teknologi informasi yang berkembang begitu pesat, kita sering terombang ambing dengan sebuah pernyataan. Dimana beragam kepentingan yang begitu dominan dari belakang setiap informasi yang kita peroleh. Setiap kita yang berjiwa optimis tentu sulit menghindar dari keadaan ini, dimana kita mau tidak mau harus menjadi bagian dari keadaan itu. Sebuah informasi yang salah menurut para pakar media ketika dibombardir secara terus menerus, maka akan berubah menjadi suatu informasi yang dianggap benar, dan begitupun sebaliknya. Kita mungkin sedikit tersadar dengan keadaan ini, sebagaimana ketika kita melakukan perbuatan dosa yang kita lakukan berulang kali, akan berubah menjadi sesuatu yang dianggap biasa, bahkan lebih parah lagi menjadi sesuatu yang kita anggap tidak berdosa sama sekali.
Dimasa sekarang banyak diantara kita yang mengidolakan seorang figur yang menurut pribadinya bisa merepresentasikan dirinya. Baik secara fisik, pemikiran, perinsip, dan lain sebagainya. Ketika seorang pribadi mengidolakan seseorang, dia cenderung dominan lebih melihat sebuah sisi dimana pribadinya merasa terwakili, baik secara fisik maupun psikologis. Sehingga apa yang dinamakan bahasa spiritual sebagai taklid buta sering terjadi. Seseorang akan berusaha menempatkan idolanya dalam posisi terbaik, bahkan tidaksegan-segan menutup mata dan telinganya untuk tidak mendengar dan melihat keburukan dalam diri idolanya. Persetan dengan ungkapan orang lain idolaku tetap yang terbaik segalanya.
Fenomena ini bukan hal yang aneh dijaman sekarang ketika setiap manusia berusaha mencari sosok nyata untuk menaruh harapan yang bisa di idolakan. Banyak sekali terjadi dimana secara sosial dan spiritual seseorang dianggap sebagai biang kerok, namun disisi yang lain dia menjadi seseorang yang dielu-elukan oleh sekian ribu orang sebagai pahlawan yang patut diberi penghargaan. Disisi yang lain sebaliknya yang secara sosial spritual dianggap sebagai seseorang yang dianggap baik, namun karena aku tidak menyukainya, aku bersumpah untuk membencinya seumur hidupku. Disebuah negara yang baik katanya seorang yang salah harus dihukum, namun di sebuah negara yang dzalim maka seseorang yang benar yang harus dihukum. Kejadian ini bukan semata hanya sebuah wacana namun nyata terjadi di sekitar kita. Ada sebuah kelompok yang berusaha mati-matian membela seseorang tokoh yang dianggap idolanya untuk menempatkannya ke posisi yang terbaik dan terhormat.
Mungkinkah dari beragam fenomena ini kita memang sangat merindukan seorang pahlawan yang mampu merepresentasikan diri kita? katanya jika memang ini terjadi, begitu sangat menyedihkan sekali diri kita ini. Sehingga kita berusaha melahirkan pahlawan-pahlawan yang menurut kita layak. Taklid buta, atau sekedar ikut-ikutan, atau hanya terpesona penampilan fisiknya semata menjadi sebuah alasan untuk menentukan pilihan bahwa dia layak jadi pahlawan dan idolaku. Yang lebih parah lagi banyak individu yang berasa layak menjadi pahlawan, sehingga tidak segan-segan mengangkat dirinya sendiri sebagai pahlawan yang barang tentu sudah kesiangan. Sungguh menyedihkan keadaan ini, yang baik dan yang buruk sudah membaur dan sulit dibedakan. Persepsi kita menjadi kacau balau dengan gempuran beragam informasi yang begitu luar biasa. Banyak orang menangis dan tertawa tanpa kesadaran penuh, semuanya menjadi sangat klise. Seremonial menjadi sesuatu yang sakral,sebaliknya yang sakral dan esensial malah menjadi sesuatu hal yang banal......
Hak Paten Diri
Menciptakan image yang baik tentang diri kita sendiri, terkadang sulit dilakukan. Terlebih menyangkut sesuatu yang bersifat transendental. Kadang dalam diri kita ada rasa kurang percaya diri yang begitu besar untuk memperlihatkan identitas kita. Setiap manusia berhak memperlihatkan dirinya siapa dan sebagai apa. Tidak ada yang berhak melarang itu semua, karena setiap pribadi unik dan berhak memperlihatkan keunikannya. Membentuk sesuatu yang baik dalam diri, tentu sewajarnya dilakukan setiap individu. Dimana itu semua yang akan membangun persepsi setiap orang yang berjumpa, dan berinteraksi dengan kita. Dalam dunia branding sering disebut sebagai self branding, dimana itulah yang akan menjadi merek kita yang dikenal orang. Apakah kita akan disebut sebagai seorang yang disiplin tepat waktu, pemalas yang hobi melamun, atau yang luar biasa kreatif, dan sebutan lainnya yang dilontarkan untuk kita.
Untuk membangun itu semua tentu bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Banyak pengorbanan yang harus kita lakukan. Apalagi kalau kita berada dalam satu lingkungan yang nyata-nyata kita nilai buruk. Apakah itu dari segi moral,intelektual, piritual, dan sebagainya, yang terkadang kita secara tidak sadar terseret ikut kedalamnya. Pengaruh negatifYang begitu kuat, lebih banyak hadir dan meracuni fikiran kita tentu dari lingkungan terdekat kita.Semua pengaruh negatif yang meracuni kita, apakah itu ucapan, perbuatan dan sebagainya, wajib kita tangkal dengan sesuatu yang positif tentunya. Hidup hanya sekali dan begitu pendek, tentu sangat rugi ketika kita tidak mampu meninggalkan artefak sejarah kehidupan yang bermanfaat bagi kehidupan seterusnya. Sebagai manusia yang diberi gelar pemimpin di muka bumi tentu punya kewajiban untuk menciptakan beragam kebaikan di dunia ini.
Setiap kita punya pandangan hidup yang berbeda-beda, namun semua mampu kita bingkai dalam pernyataan baik dan buruk. Sepertinya tidak ada manusia yang ingin mengalami keburukan dalam hidupnya, semua tentu dan pasti ingin mengalami beragam hal kebaikan dalam hidupnya. Namun kita sadari, banyak sekali manusia yang terjebak dalam nilai keburukan di dunia ini. Sehingga kita melihat betapa dia bergelimang keburukan dalam gerak langkah hidupnya. Narkotika, pelacuran, pembunuhan, penjualan anak, aborsi, dan sebagainya, yang nyata-nyata sangat melenceng dari ajaran kebaikan yang diberikan tuhan. Mungkin dalam benak kita muncul pertanyaan, apakah itu memang merupakan pilihan yang diyakini dalam hatinya?ataukah hanya ungkapan kekesalan yang sebagian besar hanya luapan emosinya? Pertanyaan ini sederhana, namun dibalik itu semua ada beragam hal yang begitu sulit kita pahami secara sederhana.
Kemampuan berfikir kita begitu luarbiasa dibandingkan dengan makhluk lain. Begitu komplek dan sangat canggih, begitu tuhan menganugerahkan. Kita mampu berbuat sesuatu yang terkadang kita tidak percaya sebelumnya. Banyak hal yang berada diluar jangkauan nalar kita. Tentunya keajaiban-keajaiban ini diciptakan supaya manusia gemar mencari sesuatu, dan ketika sesuatu itu ditemukan ada kebahagian yang akan menjadi hadiah yang tak ternilai. Begitupun membentuk nilai diri begitu banyak ragam cara, guna merepresentasikan diri kita kepada orang lain, kita akan mendapatkan nilai-nilai yang tak terduga sebelumnya. Secara tidak sadar kita disebut sebagai seorang teknokrat, kita disebut sebagai ahli budaya, seniman, dan sebagainya. Semua itu lahir berkat dari usaha kita yang berkesinambungan untuk mewujudkannya. Kita tidak berharap untuk di dewa-kan seseorang, tapi itulah interpretasi tulus orang kepada kita, karena kita membentuk itu dalam diri kita. Jangan segan-segan untuk membentuk nilai diri, ekspresikan apapun yang bersifat positif dalam diri kita. Karena hanya kita yang punya hak paten atas diri kita, tidak ada seorangpun yang mampu membajak diri kita untuk menyamai keasliannya.......
Dari Hal Biasa Bisa Lahir Ide Luar Biasa
Ide itu bisa datang darimana aja, dari sesuatu yang baik,bahkan dari sesuatu yeng jelek pun bisa muncul ide yang baik. Apa yang kita lihat, dengar, raba, rasa semuanya jadi sumber inspirasi pemikiran kita. Tidak ada yang tidak bermanfaat dalam hidup kita, apapun itu. Kita harus belajar membiasakan diri untuk pandai mentranspormasikan segala hal, untuk menjadi sumber inspirasi kita dalam berkarya. Selalu belajar berfikir integral untuk setiap pemecahan masalah yang kita hadapi. Seperti apa yang saya dapat dalam perkuliahan Proses Kreasi dan Apresiasi, bahwa kita harus memaksimalkan peran seluruh belahan otak. Kita tidak bisa hanya memaksimalkan salah satu bagian otak saja, karena semuanya tidak bisa bekerja sendiri-sendiri, tapi saling mendukung.
Kita diciptakan dengan segala kesempurnaan yang luar biasa, dan tentunya kita mampu menciptakan sesuatu yang luar biasa. Mengambil manfaat dari setiap pengalaman kita bukan merupakan pekerjaan yang sulit. Tapi kadang kita terkesan mempersulitnya, dengan dalih ilmiah, ataupun hal lain yang menuntut objektivitas. Padahal katanya memperhalus ide itu jauh lebih mudah daripada menemukan ide yang baru. Kita selalu menginginkan sesuatu yang serba spektakuler, tapi malas melakukan hal yang kecil-kecil dan ringan terlebih dahulu. Padahal menurut ahli motivasi katanya sukses besar itu lahir dari sukses yang kecil-kecil. Tidak jauh berbeda dengan ide atau gagasan, gagasan yang luar biasa bisa lahir dengan dimuali ide yang biasa-biasa namun dikelola dengan baik.
Memaksimalkan ruang berfikir kita, bukan pekerjaan sulit. Setiap orang sudah dibekali dengan perangkat yang sangat mendukung untuk melakukan itu. Kita punya panca indera yang luar biasa, mata mampu mengamati, hidung untuk mencium, dan lain sebagainya. Semuanya menjadi perangkat penting kita untuk menangkap apapun yang ada disekitar kita dan merekamnya dalam memori sebagai source untuk melahirkan ide-ide baru. Banyak yang berkecimpung dalam dunia berkesenian meraih popularitas hanya berbekal ide-ide sederhana yang ada disekitarnya. Berbekal pengamatan yang baik mampu menginspirasi, sehingga lahir ide yang cerdas dan membumi. Dalam pola persaingan hidup yang begitu ketat, dengan perjalanan waktu yang begitu cepat,kemampuan merekam untuk menciptakan sesuatu yang beda sangat penting dimiliki saat ini. Dalam dunia bisnis misalnya, ada ungkapan kalau mau sukses harus menjadi yang pertama, menjadi yang terbaik, dan menjadi yang berbeda. Kalau gak bisa memenuhi salah satunya bersiaplah untuk mati.
Menghasilkan perbedaan merupakan pekerjaan yang gampang-gampang susah karena harus didukung perangkat lainnya, selain ide itu sendiri. Dimana disitu harus ada keberanian menentang arus, dan lain sebagainya. Namun dalam perkembangannya setiap manusia selalu menginginkan sesuatu yang baru dan berbeda. Semua itu merupakan pengaruh dari budaya yang terus maju, dimana masyarakat sudah semakin cerdas dengan tingkat intelektualitas yang terus meningkat. Faktor lainnya juga sebagaimana sudah sangat kita sadari, kita terbelenggu dalam ruang informasi yang begitu padat, sehingga kita sudah tidak mampu merekam semuanya, hanya yang berbeda dan menarik perhatianlah yang mampu kita ingat. Untuk mewujudkan semua itu bisa bermula dari segala sesuatu yang berada di sekitar kita. Mari pertajam pengamatan kita, untuk menemukan berlian dalam kumpulan emas........
Pandailah Mendelegasikan Sesuatu Kepada Orang Lain
Mendelegasikan sesuatu kepada orang lain misalnya pekerjaan, ternyata bukan pekerjaan mudah.Ada saja pemikiran tidak percaya kepada orang lain. Padahal jelas-jelas itu bidangnya, dan jelas-jelas profesional. Sikap ini memang terkadang membingungkan tapi sepertinya terus menghantui, terutama bagi orang yang selalu merasa dirinya paling benar, paling profesional, paling pinter segalanya deh pokoknya. Mempercayai seseorang memang bukan pekerjaan mudah, terlebih dalam dunia profesional yang jelas urusannya bisnis.
Sikap ini seharusnya kita hindari, karena jelas mengganggu alur formal sebuah pekerjaan. Menjadi terhambat, dan sepertinya jadi sembelit tidak lancar karena ulah sikap ini. Kepandaian mendelegasikan pekerjaan kepada seorang profesional harus dimiliki setiap yang merasa dirinya atasan. Kadang jadi lucu yang seharusnya bukan pekerjaannya malah ikut repot, karena diperbudak rasa merasa diri paling pinter. Peristiwa ini tidak hanya terjadi dalam ruang lingkup pekerjaan saja, namun dalam ruang lingkup sosial yang lebih luas juga sering terjadi. Sehingga menimbulkan sikap antipati, bahkan sentimen, dari merasa diri tidak dihargai.
Ungkapan ini bukan berarti membiarkan sebuah kesalahan begitu saja dengan alasan bukan urusan guwe, tapi lebih ke arah terlalu merasa orang lain tidak sesempurna kita. Ini jelas egoisme yang terlalu vulgar untuk dipertontonkan. Memberi masukan kepada orang lain atas sebuah kekurangan merupakan kewajiban,tapi ketika sikap kita sudah melebihi batas privasi orang lain tentu akan sangat mengganggu sebuah hubungan. Kerja team work selalu menghasilkan sesuatu lebih baik daripada kerja sendirian. Walaupun tidak sedikit yang kerja sendirian malah lebih profesional dibanding kerja berjamaah. Karena mungkin peluang banyak omong sedikit berbuat,dalam ruang berjamaah lebih leluasa.
Menghargai kemampuan orang lain sangat penting dalam rangka menanamkan kepercayaan kepada diri sendiri. Tidak ada manusia yang sempurna termasuk diri kita tentunya, saling menghargai dan mempercayai sesama kita tentunya menutupi itu semua. Sebuah kesusksesan besar selalu dibumbui kontribusi orang lain, kita tercipta untuk bersama mewujudkan apapun keinginan kita menuju hidup yang lebih baik.
Senangi Banyak Hal Dalam Hidup Kita
Membangun pengalaman visual, memperluas wawasan, dan membuka pemikiran kita seluas-luasnya, menurut saya sangat penting sekali untuk meningkatkan nilai pada diri kita. Apakah itu menyangkut profesionalisme, maupun ke-dirian kita, dimana eksisitensi kita sebagai seorang manusia. Dalam ruang lingkup hidup yang begitu luas, kita selalu dituntut hidup lebih baik dari hari ke hari, dan memberikan kontribusi sebanyak-banyaknya untuk lingkungan. Untuk mewujudkan itu semua, diperlukan nilai lebih pada diri kita yang akan kita manfaatkan untuk mewujudkannya.
Setiap kita tentu menginginkan kehidupan yang lebih baik, siapapun itu seorang yang malas sekalipun. Setiap kita menggunakan banyak cara untuk meraihnya, sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Banyak jalan menuju Roma begitu kata peribahasa. Sebagai seorang profesional kita dituntut untuk menguasai bidang kita sebaik-baiknya. Itu merupakan sebuah konsekwensi yang harus dengan senang hati kita tanggung. Namun banyak sekali kendala untuk mencapainya. Dari mulai rasa malas, kemudian terlalu sayang untuk berkorban sesuatu, banyak pertimbangan, dan gangguan-gangguan pemikiran negatif yang belum tentu terjadi.
Dalam dunia desain misalnya, kita selalu dituntut untuk memperbaharui pengetahuan kita setiap waktu. Pengetahuan yang bersifat teori, teknis, maupun visual. Kita selalu bersinggungan dengan kemajuan zaman yang tidak akan pernah terhenti. Perilaku sosial, sebuah sistem negara, etnis, bisnis, dan segala hal yang berhubungan dengan diri kita, dimana kita berada. Semuanya terus bergeser tidak pernah berhenti pada tata nilai yang stabil. Membuka pemikiran seluas-luasnya bagi diri saya sendiri sangat penting. Dimana kita tidak menjadi seorang yang fanatik terhadap sesuatu (kecuali pada agama tentunya), sehingga menjadi buta terhadap kenyataan. Fleksibilitas berfikir menjadi sangat penting dalam tata nilai saat ini, sehingga terlalu cepat mengambil keputusan dan menghakimi terhadap sesuatu tanpa analisa yang menyeluruh dapat kita hindari.
Membuat sebuah karya yang baik dan relevan tentunya bukan hal mudah di zaman sekarang ini. Keberagaman persepsi yang saling ingin menonjol menjadikannya kita harus lebih bijaksana untuk menyajikan sesuatu. Untuk merelisasikannya kita perlu pengetahuan yang sangat luas, yang berhubungan dengan multidisiplin pengetahuan. Maka dari itu, mari untuk mulai menyukai banyak hal dalam hidup ini. Tidak ada yang tidak menarik dalam hidup ini setelah kita masuk kedalamnya. Dengan mengetahui banyak hal dalam hidup ini akan semakin menyenangkan kita untuk melangkah.
Tanggung Jawab Profesi
Kalau ditanya masalah profesionalisme, sebagai seorang yang bergelut disatu bidang tertentu tentu akan sangat antusias sekali merespon apapun yang berhubungan dengan itu. Setiap orang memiliki passion masing-masing, yang salah satunya di realisasikan dalam profesinya. Keterlibatan emosi dalam dalam menjalani sebuah profesi merupakan sebuah keharusan menurut saya. Tidak bisa dibayangkan ketika seseorang menjalani sebuah aktivitas yang dilakukan rutin setiap hari, namun jiwanya tidak ikut terlibat didalamnya, hanya raganya saja yang lelah bergerak yang terkadang melebihi batas kemampuannya.
Sebagai seorang karyawan, setiap orang punya tanggung jawab masing-masing atas dirinya, dalam rangka memenuhi segala kewajibannya. Ada sebagian karyawan yang saking merasa dirinya bertanggung jawab untuk memajukan perusahaan, terkadang lupa akan profesinya sendiri. Sehingga kontribusi akan profesinya sangat kecil, karena disibukkan oleh sesuatu yang jelas-jelas bukan tanggung jawabnya. Seorang profesional menurut saya seharusnya lebih mementingkan bagaimana mengembangkan dirinya, untuk lebih memberikan kontribusi sebanyak-banyaknya untuk profesinya yang tentu secara tidak langsung memberikan efek menguntungkan bagi perusahaannya tersebut.
Sebagai contoh mungkin diri saya yang mengaku sebagai desainer, tentu harus lebih banyak berfikir bagaimana mengembangkan diri pribadi sebagai desainer, untuk menghasilkan karya yang selalu lebih baik dari setiap pekerjaan. Karya-karya yang penuh dengan nilai eksploratif, yang dilatarbelakangi dengan wawasan dan cara pandang yang sangat luas. Semua itu tentunya hanya dapat dicapai dengan banyak melakukan riset, eksplorasi, baik secara teknis maupun teoritis. Dengan semakin luas wawasan keprofesian kita, tentu akan semakin banyak solusi yang dapat kita ciptakan. Begitu halnya dengan profesi lain yang tidak jauh berbeda.
Kadang ada sesuatu yang menurut saya agak lucu, dimana ada seorang yang sangat peduli sekali dengan perusahaan dimana dia bekerja, sehingga hari-harinya banyak bicara mengenai perkembangan terkini mengenai perusahaannya, mulai dari hal-hal yang bersifat menggembirakan sampai yang bersifat menyedihkan. Tapi kadang dirinya lupa untuk lebih mengembangkan dirinya kearah yang lebih profesional, dimana nilai lebih akan dicapainya. Sehingga kontribusi, yang merupakan wujud tanggungjawab akan profesinya sangat sedikit sekali, malah hanya sebuah aktivitas ritual yang tanpa makna saja, karena jiwanya melayang entah kemana ;).
Sebagai manusia yang mencintai profesinya, tentu banyak cara untuk lebih meningkatkan citra diri kita di dalamnya. Upgrade ilmu tentunya harga mati, menambah kemampuan teknis tidak bisa kita pandang sebelah mata. Dunia selalu berkembang dari detik ke detik, semuanya menuntut perhatian kita. Kehidupan sekaranga tentu akan sangat berbeda dengan kehidupan sepuluh tahun kedepan. Untuk menyongsong semuanya itu perlu persiapan. Tidak ada kata terlambat untuk siapapun, dimanapun, kapanpun. Jauhkan kata TIDAK! dari pemikiran kita. Jangan menjadi orang-orang kalah yang hanya banyak mengeluh tanpa berbuat. Berbuat untuk profesi kita baik, baik, dan selalu lebih baik.
Keyakinan
Memelihara sebuah keyakinan dalam diri kita, merupakan tugas yang tidak ringan. Apakah menyangkut keyakinan yang bersifat spiritual, maupun yang bersifat psikologis. Dalam menjalani pemeliharaan keyakinan, tak kurang kita harus banyak berkorban untuk menjalaninya. Apakah itu korban harta, perasaan, bahkan nyawa sekalipun. Untuk mempertahankan keyakinan, setiap orang punya ekspresinya masing-masing, dari mulai yang mampu berteriak lantang, sampai yang merenung berdiam diri bertafakur. Banyak hal yang sangat menarik dalam pola kehidupan kita pada umumnya. Setiap orang merasa harus berontak ketika keyakinannya merasa terganggu. Terlepas apakah itu hanya sebuah lelucon yang sengaja diciptakan untuk menyulut emosi, ataupun yang diciptakan memang serius dan ilmiah dalam rangka mengusik keyakinan orang lain.
Setiap orang punya keyakinan masing-masing,karena kita sepakat bahwa hal tersebut merupakan hak setiap individu. Tidak ada yang berhak memaksakan sebuah keyakinan kepada orang lain, karena telah melanggar sebuah kesepakatan bersama. Hanya dirinya lah yang berhak menentukan arah mana yang hendak dia pilih untuk menentukan keyakinan itu.
Berawal dari sebuah keyakinan, seseorang mampu merealisasikan kehidupannya dengan seperti apa yang diyakininya. Hal itu menyangkut seluruh aspek kehidupannya, dari mulai kehidupan spiritualnya, kesuksesannya, ketenarannya, dan lain sebagainya. Aspek keyakinan begitu penting dalam menentukan keberhasilan hidup kita. Banyak orang gagal menghadapi kehidupannya karena kurang keyakinan dalam menjalaninya. Hal ini sepertinya sepele, tapi luar biasa efeknya. Maka dari itu mari kita tanamkan keyakinan-keyakinan positif dalam diri kita, mengenai kehidupan ini. Jangan sekali-kali pernah mempunyai anggapan negatif dalam diri kita tentang hal apapun. Karena anggapan negatif itu besar kemungkinan akan berwujud dalam kehidupan kita. Kalau windows mengatakan "what you see is what you get, kita juga bisa mengatakan what you think is what you get. Ini sesuai ketentuan Alloh, bahwa Alloh berfirman " Aku sesuai dengan prasangka Hamba-Ku"...
Filosofi Pecahan Piring
Bagaimana seandainya sebuah piring pecah menjadi dua bagian, kemudian dia bertemu dengan pecahannya itu, dan masing-masing pecahannya tidak saling mengetahui bahwa mereka itu sebenarnya satu bagian yang pernah terpisahkan dengan dinding ruang dan waktu. Mungkin mereka selamanya tidak akan pernah saling bersatu lagi, seandainya mereka tidak saling "merepresentasikan" dirinya masing-masing antara satu sama lain, sehingga diantara mereka timbul keyakinan yang memang saling membenarkan bahwa sebenarnya mereka itu satu bagian, yang suatu saat saling membutuhkan dan tidak ada pengganti selain diantaranya. Mereka harus bersatu tidak boleh tidak, itu kehendak yang maha mengetahui.
Pada hakekatnya kehidupan itu sebuah pencarian, termasuk mencari pecahan dirinya dan itu akan terus berlangsung selama dia masih bernafas. Pencarian belahan diri akan berhenti ketika belahannya itu di temukan. Keafdolan kebenaran belahan diri itu bisa diketahui ketika satu sama lain memperlihatkan kelancipan dan ketumpulan berkas pecahannya. Apabila kelancipan dan ketumpulan itu pas menyatu dengan presisi maka tidak akan ada benturan yang bisa merepresentasikan kembali keraguan kebenaran belahan mereka yang mampu melahirkan ketidak percayaan dan saling menuduh, dirasa ada tipu muslihat di antara mereka....toh saling mengisi itu (baik->buruk) adalah intinya.
Mungkin analogi belahan piring ini terlalu naif, namun demikian kehidupan, ketika sebuah pertemuan berlangsung antara pribadi berbeda lawan jenis, kemudian menyatakan kesediaan untuk bersatu saling mengisi dalam kehidupan, mereka tak beda dengan bagian sisi yang terpecah dari sebuah piring yang pasti saling mengisi. Saya mencoba memahami analogi ini untuk suatu ketika menjalankan roda kehidupan yang bernama keluarga. Agama mengajarkan tak ubahnya kedua pasangan ini seperti pakaian untuk keduanya, dimana istri merupakan pakaian bgi suami dan begitupun sebaliknya. Begitu indah agama menganalogikan bagaimana kelebihan menyempurnakan kekurangan.
Saling melengkapi kekurangan adalah salah satu tugas dalam berkeluarga sehingga relasi "kita" memang benar berfungsi dengan baik. Tidak ada manusia yang sempurna, tidak ada gading yg tak retak, begitu peribahasa menyebutkan, toh terkadang yang retak itu lebih artistik daripada yang mulus tanpa cacat. Tuhan tidak pernah menciptakan garis lurus yang presisi, karena tuhan maha tahu akan makhluknya yg bernama manusia yang tentu akan merasa jenuh ketika harus memandangi sebuah hal yang monoton. Maka Tuhan menciptakan garis-garis hidup yang dinamis, dimana diditu ada lekukan, cembungan, tebal tipis, kontur, dsb. Begitu ekspresip tuhan menciptakan itu semua, karena kesayangan kepada makhluk ciptaan-Nya yaitu kita manusia dan seluruh ekosistem di dalamnya.
Banyak bentuk syukur yang bisa kita realisasikan dalam hidup kita. Memelihara apa yang telah dianugerahkan kepada kita, dan memanfaatkannya dengan baik sesuai kehendak-Nya adalah salah satunya. Mensyukuri pasangan hidup kita, dan mensyukuri segala sesuatu yang berada di sekitar kita yang menunjang kehidupan kita, tentu wajib kita lakukan. Begitu nikmat hidup yang hanya sekali ini jangan pernah disia-sia kan.
Keyakinan
Setiap orang punya keyakinan masing-masing,karena kita sepakat bahwa hal tersebut merupakan hak setiap individu. Tidak ada yang berhak memaksakan sebuah keyakinan kepada orang lain, karena telah melanggar sebuah kesepakatan bersama. Hanya dirinya lah yang berhak menentukan arah mana yang hendak dia pilih untuk menentukan keyakinan itu. Berawal dari sebuah keyakinan, seseorang mampu merealisasikan kehidupannya dengan seperti apa yang diyakininya. Hal itu menyangkut seluruh aspek kehidupannya, dari mulai kehidupan spiritualnya, kesuksesannya, ketenarannya, dan lain sebagainya.
Aspek keyakinan begitu penting dalam menentukan keberhasilan hidup kita. Banyak orang gagal menghadapi kehidupannya karena kurang keyakinan dalam menjalaninya. Hal ini sepertinya sepele, tapi luar biasa efeknya. Maka dari itu mari kita tanamkan keyakinan-keyakinan positif dalam diri kita, mengenai kehidupan ini. Jangan pernah mempunyai anggapan negatif dalam diri kita tentang hal apapun. Karena anggapan negatif itu besar kemungkinan akan berwujud dalam kehidupan kita. Kalau windows mengatakan "what you see is what you get, kita juga bisa mengatakan what you think is what you get. Ini sesuai ketentuan Alloh, bahwa Alloh berfirman " Aku sesuai dengan prasangka Hamba-Ku"..........
Mahkluk Paling Kreatif Sedunia
Sebegitu bebasnya dunia anak-anak, seolah membawa diri ini terbang kemasa lalu, dimana aku begitu dicap sebagai mahluk paling kreatif di muka bumi. Itulah anak-anak, dengan segenap kelenturan imajinasinya mampu menciptakan apapun sesuai keinginannya. Pesawat terbang dari sapu ijuk, mobil-mobilan dari kursi tua yang usang, bahkan kuda-kuda an dari ayahnya sendiri yang ditumpangi. Semuanya berubah wujud dalam logika mereka. Ketakutan berbuat sesuatu tidak ada dalam kamus mereka, semuanya, apapun, tidak ada yang mampu menghambat untuk berbuat.
Tidak halnya dengan kita, makhluk dewasa, yang berlogika, tidak mampu berbuat banyak, seperti halnya mereka. Batasan-batasan yang kita ciptakan sendiri, telah mampu mengasingkan diri kita, menuju dunia yang begitu menakutkan. Dimana kita hanya diam terpaku, memelas mohon dikasihani, mengeluh tanpa alasan yang jelas. Banyak harapan berubah menjadi sesuatu yang tidak berguna, banyak waktu yang tidak begitu dihargai. Sering banyak bicara rencana, namun tanpa usaha yang nyata. Kita berniat untuk maju tapi takut melangkah dan lain sebagainya. Semuanya adalah dinding-dinding yang kita buat, untuk memenjarakan diri kita sendiri.
Dunia masih memerlukan tangan dingin kita untuk dihias, begitu banyak peluang berseliweran di depan mata kita, apakah kita hanya diam terpaku melihatnya. Tidak bisakah kita sekreatif ketika kita menjadi anak-anak? Mampukah kita masuk kembali kedunia mereka tanpa meninggalkan pakaian kedewasaan kita yang telah begitu jauh berubah. Anak-anak adalah kita yang telah menjadi dewasa, kita adalah anak-anak yang telah menjadi dewasa. Kita tidak hidup terpisah, kita menyatu sampai kapanpun. Mampu untuk masuk kedunia anak-anak, bukan berarti harus menjadi anak-anak.
Sumber Ide
Sumber-sumber ide banyak sekali di sekeliling kita, mulai dari pengalaman yang bersifat pribadi, kolektif maupun hal-hal yang kita lihat sehari-hari. Kadang kita suka mempersulit diri dengan terlalu mengekang pada bahan-bahan yang bersifat “benda referensi”. Apakah itu berupa buku-buku portfolio, kliping dan sebagainya. Kadang kita lupa akan aset memori yang ada dalam otak kita. Begitu banyak data dalam kepala, namun kita kurang begitu cerdas merangsang, dan menyajikannya data-data tersebut.
Menghasilkan ide-ide cerdas orisinal, bukan sesuatu yang membungbung tinggi untuk diraih. Namun perlu perjuangan dan kerja keras untuk menyajikannya. Mulai dari faktor psikologis yang menyangkut rasa percaya diri dan keberanian, juga faktor kecerdasan intelektual yang jeli melihat inti persoalan. Ketika semua faktor bersinergi bekerjasama, maka ide-ide brilian tidak mustahil kita lahirkan.
Kita sering berdecak kagum dengan hasil karya orang lain, dan dengan spontan mulut kita berucap “gila keren banget”, namun kadang kita terlalu dimanja dengan hal-hal yang seperti itu, dimana kita hanya sebagai penikmat , sehingga kita lupa akan diri kita sendiri yang belum menghasilkan apa-apa. Kita sungguh dermawan memberi pujian akan-akan karya-karya fenomenal orang lain, tapi diri kita sendiri hanya seorang manusia yang tidak mampu menghasilkan apa-apa.
Harus kita sadari semua manusia sama, dilahirkan dengan segenap keistimewaan, yang diberikan Tuhan untuk menyelesaikan kehidupannya. Seluruh perangkat kreatif dalam diri kita begitu luar biasa, Kecanggihannya dapat dibuktikan dengan mampu bertahannya manusia untuk hidup di muka bumi sampai sekarang. Potensi-potensi ini seyogianya dirangsang untuk bangkit, tidak dibiarkan untuk tidur. Karena apabila raksasa ini bangun, niscaya kita mampu melukis seluruh daratan dunia ini dengan karya-karya luar biasa.
Mari kita pertajam fikiran kita, ingatan kita, penglihatan kita, rabaan kita, serta pendengaran kita, untuk lebih sensitif dan bisa melihat sesuatu yang tidak dilihat orang. Saatnya berbuat sesuatu ketika orang enggan untuk berbuat sesuatu. Kreatifitas tidak ada diluar diri kita namun selalu menyatu dalam diri kita.
Pentingnya Proses dalam Dunia Kreatif
Bicara masalah kualitas, tidak terlepas dari sebuah proses. Dalam realitas kehidupan, kita selalu
terkait dengan yang namanya hasil dan proses. Sebuah hasil yang baik tentu tidak terlepas dari sebuah
poses yang baik pula. Hampir setiap orang dalam hal apapun selalu menginginkan hasil terbaik. Tidak
luput dari dunia desain juga. Setiap pekerjaan desain yang dibebankan kepada desainer, tentu ingin
hasilnya yang terbaik. Tak peduli itu apakah klien, boss, atau penikmat semata. Mereka akan sangat
keras berkomentar dengan hasil yang mereka lihat.
Ada satu hal yang terkadang mereka lupakan, bahwa menciptakan suatu kreatifitas yang berkualitas, tidak
terlepas dari eksplorasi kreativitas yang berkualitas juga. Ini terkadang mereka lupakan, apakah itu
sebuah eksperimen kreatif, research, atau apapun yang sifatnya mendukung penciptaan kreatifitas. Karena
sepertinya semua sepakat, desain yang baik, tidak hanya sebatas visual yang baik, namun diiringi dengan
konsep yang baik pula.
Banyak sekali institusi lokal level bawah, yang bergerak di bidang kreatif produk, yang mengabaikan
sebuah proses. Mereka berperinsip sangat kapitalis sekali, dengan modal sedikit-dikitnya, waktu sesempit-sempitnya, tapi hasil harus sebaik-baiknya. Mereka lupa yang namanya proses dari sebuah pekerjaan adalah penting, seperti halnya memutuskan naik tidaknya gaji seorang karyawan, juga melalui proses, dari mulai penilaian performa, sampai lamanya mengabdi. Tentu ini sangat disayangkan, ketidak pahaman sebuah institusi dalam mengorganisasi sebuah divisi kreatif.
Dari keadaan ini banyak sekali perilaku industri kreatif yang kurang bertanggung jawab lahir dan
akhirnya menjadi sebuah kebiasaan, dari mulai mengambil gambar milik orang lain seenaknya, bahkan yang
lebih parah lagi mencontek ide orang lain 100%. Sebagai orang yang bergerak di bidang kreatif tentu
merasa prihatin dengan keadaan ini. Semua kejelekan ini terkadang diwariskan kepada generasi
selanjutnya. Apakah bersifat peniruan atau kadang berupa anjuran dari pelaku sebelumnya.
Mari kita hargai sebuah proses, jangan dianggap sepele.Sebuah proses yang baik, tentu akan menghasilkan
kreatifitas yang baik pula. Setiap bidang keilmuan tentu mempunyai sebuah metodologi kerja yang menjadi
sebuah standar, dan tentunya dalam dunia kreatif pula tidak jauh berbeda, meskipun yang namanya
metodologi bisa bersifat flexibel.
Curhat Desain
Dalam dunia desain hal-hal seperti itu sering terjadi, dan tentu semuanya sangat wajar, sepanjang masih dalam jalur metodologi kerja yang baik. Akan tetapi terkadang sang desainer terpojok oleh keadaan posisi yang boleh dibilang hanya sebagai karyawan yang tidak punya otoritas. Sehingga keputusan estetis terkadang harus banyak mengalah, sampai pada tingkatan terjerumus kepada hanya sebatas memuaskan keinginan atasan. Keadaan ini sangat disayangkan, karena pertanggungjawaban secara disiplin ilmu sama sekali tidak ada. Semuanya mengerikan bagi saya, bagaimana tidak seorang desainer boleh dibilang tidak menikmati hasil karyanya sendiri. Sedangkan yang seharusnya dia harus menikmatinya dengan penuh pertangungjawaban secara profesi.
Sebuah upaya pencarian solusi, ketika harus melibatkan banyak elemen harusnya mampu menciptakan sebuah kesepakatan yang bias dinikmati bersama. Tapi memang sangat disayangkan ada sebagian industri yang memposisikan hanya sebagai setter estetika selera dari pimpinan saja, sehingga penghargaan terhadap dunia profesinya boleh dikatakan tidak ada. Seolah-olah desainer hanya seseorang yang tidak mengerti apa-apa, hanya bisa mengoperasikan komputer saja, dan hanya dilibatkan secara teknis belaka. Ada ketidak mengertian, sebenarnya sekolah desain itu mempelajari apa aja sih?
Padahal seandainya mengerti dunia profesi ini, mungkin penghargaan kepada seorang desainer akan lebih meningkat. Bagaimana tidak seorang desainer yang selalu dituntut untuk menjadi seorang problem solver, seorang stylist, ataupun seorang trendseter, hanya dianggap sebagai seseorang yang hanya bergantung kepada bakat, bekerja mengandalkan mood yang harus dikendalikan, sehingga sama sekali dianggap tidak terlalu mengenal dunia ilmiah, sebagaimana bidang profesi lain yang sudah lebih dulu bermasyarakat. Tentu pandangan ini sangat keliru, karena dunia desain sangat ilmiah, dan tidak hanya mengandalakan intuisi saja.
Seorang desainer sama kedudukannya dengan seorang ilmuan yang dituntut banyak tahu dalam segala hal. Dari mulai dunia politik hingga dunia bisnis. Dalam ruang lingkup kajian desain tidak heran dipelajari banyak bidang keilmuan yang selalu bersinggungan, diantaranya dunia psikologi, sosiologi, filsafat, antropologi, marketing, dan sebagainya. Semuanya diberikan untuk membekali para desainer, sehingga mereka mampu memperkuat konsep berfikir dalam berkarya. Sehingga seluruh karya yang dibuat harus mampu mewakili dunia keprofesiannya, dan jatidiri tentunya. Sehingga peleburan kedua idelisme itu terjadi sangat cantik, yang tentu akan menghasilkan karya yang cantik pula.
Fenomena maraknya kursus-kursus yang tidak membekali keilmuan untuk membekali konsep berfikir sebagai seorang desainer, menyebabkan lahir banyak karya yang kurang bisa dipertanggungjawabkan, secara profesi, juga lemah dari nilai estetika maupun visibilitas. Semua ini menjadi persoalan tersendiri dalam ruang lingkup dunia desain, yang menjadi tanggung jawab bersama untuk saling memberikan kontribusi menuju keadaan lebih baik.
