Catatan Angkot_02

Setiap pagi kulangkahkan kaki ini menuju tempat mengais rezeki, untuk meneruskan kehidupan. Seperti biasa aku menaiki kendaraan andalan yaitu tentu saja angkutan kota. Hampir setiap pagi pula mata ini melihat pemandangan yang itu-itu saja. Lalu lintas Macet, manusia yang semerawut, tata ruang kota yang tak beraturan. Semakin hari pemandangan itu semakin aktual, dan semakin menjadi.

Tengok saja pasar pagi yang sudah menyita separuh jalan umum yang nyata sibuk aktivitasnya. Selain terampas sebagaian bahunya, ditambah aksesoris sampah yang tidak terkendali setiap pagi. Tentu saja ini menambah beban tugas pak Ikhlas yang selalu menyapu membersihkannya. Sebuah penomena yang sepertinya tak habis-habis untuk diwacanakan, dan tak pernah terselesaikan. Rencana pembenahan, malah menjadi semacam momok yang menakutkan bagi pelaku kesemerawutan. Para ponggawa pelaku kebijakan juga dihantui hal yang tidak terlalu jauh berbeda. Pengalaman menjadi sebuah catatan yang tak mudah untuk dilupakan. Aksi demo yang menyebabkan bentrok fisik dan kekerasan, ketakutan bangkrut kemudian tidak makan, atau ketakutan turun tahta karena tidak mampu menyelesaikan persoalan yang sudah kadong dibuat point selling kampanye. Semua persoalan menyatu dalam setiap pribadi pelaku.

Setiap warga negara berhak menentukan nasib hidupnya masing-masing tanpa harus merasa dibatasi hak dasarnya sebagai manusia. Begitupun pemerintah sebagai lembaga yang menaungi seluruh warganya punya kebijakan yang mewakili seluruh warga, demi sebuah nilai kebaikan yang bisa dirasakan bersama tanpa memandang apapun. Kesemuanya memerlukan saling pengertian tentunya. Lawong saya yakin ko semuanya menuju nilai terbaik.

Tapi kenapa yah kok yang namanya kesepakatan bersama itu sulit sekali dicapai. Padahal tiap individu sendiri meyakini akan kebaikan yang akan dirasakan bersama. Sehingga untuk mengambil sebuah kebijakan dan merealisasikannya terkadang harus menelan korban. Korban psikologis, fisik, dan sebagainya, seolah menjadi semacam keharusan. Seandainya semua fihak mengerti dan mau merealisasikan apa yang dinamakan toleransi, kayaknya tidak perlu ada korban lagi.

Toh yang namanya bermusyawarah, bukan berarti menyamakan pendapat, lebih ke masalah bagaimana menghargai pendapat orang lain, dan mengambil keputusan yang menjadi kesepakatan bersama. Namun memang tugas yang sangat berat untuk meyakinkan hal itu. Ditambah masalah tingkat pendidikan mereka, keadaan ekonomi, dan lingkungan sosial dimana mereka hidup. Pendidikan masa memang harus terus digencarkan tanpa kenal lelah.

Kesadaran akan arti sebuah kesepakatan menjadi sebuah keadaan yang harus dibayar sangat mahal. Akibat hal ini, cenderung sebuah masalah hanyalah tinggal masalah yang tidak pernah terselesaikan. Keadaan yang tetap tidak pernah berubah adalah efek dari semuanya. Egosentrisme tiap individu itulah biang keroknya………

Posted at di 2:22 AM on Thursday, November 22, 2007 by Diposting oleh Heri Sandi | 0 komentar   | Filed under: