Catatan Angkot_01

Katanya naik angkutan umum itu sangat merepotkan, apalagi dengan
masyarakat yang terbiasa dengan fasilitas pribadi. Mobil pribadi,
sopir pribadi, bahkan jalan juga bila perlu pribadi (sewa Patwal).
Tapi orang seperti saya sebagai pengguna fasilitas angkutan umum,
naik angkutan umum menjadi berkah tersendiri. Malahan mungkin kalau
tidak naik angkutan umum saya bisa jadi menjadi tidak se-dewasa,
atau se-sensitif, atau mungkin se-cerdas, seperti halnya sekarang.
Bisa jadi tidak dewasa, selalu bodoh, dan tidak peduli terhadap
keadaan sekitar.
Suatu saat untuk mengusir kejenuhan kadang-kadang menyempatkan diri
menaiki bis kota dari terminal pemberangkatan sampai pemberhentian
terakhir. Dalam perjalanan biasanya sangat kaya dengan pengalaman.
Walaupun mungkin rutenya tidak sejauh dari Sabang menuju Merauke.
Ketika di perjalanan kita tentu harus berdesakan dengan berbagai
macam orang berbeda, baik latar belakang pendidikan, usia, budaya,
status sosial, dan lain sebagainya. Kita akan mencium bau dari
mulai parfum kelas menengah, hingga bau badan yang minta ampun.
Begitu hiruk pikuk, begitu tidak ada batas posisi dimana org mampu
dan tidak mampu. Semua menyatu dalam satu benda yaitu angkutan
umum, yang kurang begitu nyaman, tidak private, dan sulit tepat
waktu.Setiap penumpang ingin memperlihatkan sikap "Saya" nya. Gue
wanita karier nih, gue mahasiswa nih, saya pedagang nih, saya
pengajar nih, gue preman nih, gue sendiri apa yah?
Seperti halnya kehidupan, suasana dalam angkutan juga tidak terlalu
jauh berbeda. Masing-masing orang ingin berperan seperti dirinya.
Dia tidak mau orang lain salah menafsirkan atas dirinya. Tidak
heran ada yang berkostum abis-abisan dengan mini skirt, karena dia
seorang Sales Promotion Girl untuk salah satu produk terkenal. Ada
yang dandan compang-camping dengan levi's belel berlubang karena
dia seorang mahasiswa seni. Bahkan ada mempercantik tampilan
machonya dengan tato, dan piercing, dan sayatan pisau bekas
menikmati narkoba, karena dia ingin disebut preman, anak gaul dan
sebagainya.
Apapun tampilannya yang jelas merupakan ekspresi diri, bukan
ekspresi orang lain. Ada hal yang menarik, ketika orang berekspresi
habis-habisan ada satu hal yang menggambarkan ketidak percayaan
terhadap dirinya sendiri. Seolah orang lain selalu salah menilai
dirinya. Sehingga ada semacam pemaksaan, bahwa persepsi kamu dengan
saya, apapun alasannya harus sama. Mungkin seperti itulah
kecenderungan sikap manusia sekarang. Sehingga nilai toleransi
sebagai makhluk sosial sangat miskin sekali. Ini terlihat hanya
untuk memperlihatkan kejantanannya sebagai preman sulit untuk
bergeser tempat duduk, sekedar mempermudah orang lain untuk
duduk....
Emh...sepertinya dengan melihat penomena diatas, tidak ada alasan
untuk mengatakan bahwa naik angkutan umum kurang bermanfaat. Dengan
hanya sekali jalan saja kita bisa banyak belajar, bagaimana
merealisasikan segala kemampuan kita dengan beragam istilah yang
mudah untuk dikatakan namun sulit untuk dilaksanakan. Seperti
toleransi sebagai contohnya......

Posted at di 11:12 PM on Wednesday, November 21, 2007 by Diposting oleh Heri Sandi | 0 komentar   | Filed under: