Foreword

Dunia begitu sibuk dengan kesehariannya, berputar 24 jam non stop tanpa berhenti. Tidak pernah ganti suku cadang, tidak pernah service di dealer resmi seperti halnya Honda. Seiring bergeraknya dunia, manusia sebagai salah satu makhluk purba penghuni bumi yang terus mempertahankan dan meningkatkan kualitas kehidupannya, tidak mau terlalu jauh tertinggal dan terseok oleh perputaran bumi yang tidak pernah kompromi (istilah sunda: pinter ngigelan jeung ngigelkeun jaman). Dengan keangkuhan intelektualnya manusia terus menyempurnakan kesaktiannya, demi mencapai predikat apa yang dinamakan tuhan. Tuhan lama yang telah ada sebelum pemikiran ketuhanan ada, tidak mencegah hal tersebut utk dilakukan manusia. Walaupun secara pelan menjadi saingan yang siap menggantikan posisi-Nya. Sedikit demi sedikit kemudian berkembang pesat,tuhan-tuhan baru telah lahir. Tuhan-tuhan intelektual sudah berani menggantikan intelektual Tuhan yang sebenarnya. Dengan semangat modernis manusia abad mutakhir membangun secara mandiri kerajaan-kerajaan tuhan pribadinya. Tuhan intelektual, tuhan material, bahkan tuhan-tuhan imitasi lain yang berusaha berpromosi dengan label tuhan sebenarnya.
Begitulah kurang lebih perspektif saya tentang hiruk pikuk kehidupan yang begitu melelahkan. Kesibukan menyempurnakan kehidupan tiap individu sangat menyita waktu dan ruang gerak hidup manusia itu sendiri. Individualisme yang begitu subur, tak peduli kehidupan sekitar, bahkan dirinya sendiri, berkembang menjadi sebuah prinsip yang begitu elegan dan terhormat. Sehingga ruang kontemplasi begitu sedikit, bahkan mulai tergusur dengan semua aktivitas lain yang dianggap lebih penting. Dengan fenomena ini, kita menjadi makhluk yang begitu bodoh, memandang arti dari sebuah kehidupan. Nilai real materi selalu menjadi patokan sebuah kesuksesan menjalani hidup. Tidak absolut salah, tapi apakah sesederhana dan sebodoh itu pandangan manusia dengan seperangkat kecanggihan intelektualnya?
Tentu tiap individu punya pandangan yang berbeda. Apapun latar belakang anda silahkan beropini, dengan tujuan sharing dengan makhluk tak lebih bodoh daripada apa yang saya gambarkan yaitu penulis sendiri. Menjalani dan bertujuan hidup tidak hanya untuk diri sendiri adalah sebuah hal yang menyenangkan. Dengan memanfaatkan sifat sosial dalam diri kita, moral agama selalu menjadi pijakan dasar, tapi bukan sebuah batasan yang tidak boleh dilanggar. Silahkan beropini berkontemplasi bebas, mudah-mudahan menjadi berkah tersendiri untuk kita semua, demi meningkatkan kemuliaan kita semua sebagai manusia, amin.

Posted at di 10:51 PM on Sunday, October 28, 2007 by Diposting oleh Heri Sandi | 0 komentar   | Filed under: