Dunia Hiruk Pikuk

Tiap hari dari waktu ke waktu sepertinya besar dunia cenderung tetap. Belum ada survey yang saya tahu bahwa secara ilmiah dunia ini mengalami perbesaran yang signifikan. Tapi yang terjadi malah hal yang sebaliknya, yang mengisi dunia ini bertambah tiap detik, tiap menit, setiap saat. Hal yang berhubungan dengan masalah makhluk yang melibatkan secara khusus pengaturannya oleh Sang Pencipta tentu tidak kita khawatirkan. Toh mutlak nilainya sudah pasti akurat. Tapi yang menjadi kekhawatiran kita adalah mengenai populasi makhluk ciptaan manusia. Kita tahu bahwa kita sebagai manusia tidak begitu pandai memanage alam semesta ini dengan baik. Jangankan alam semesta, memanage dirinya sendiri saja kepayahan.

Seiring perkembangan zaman, saat ini banyak sekali pola hidup yang terus berubah kearah semakin tidak terkendali. Semua ini tentunya berbanding lurus dengan tingkat kepuasan hidup manusia yang cenderung menjauh bahkan tidak pernah mencapai finish. Sebagai contoh kecil mengenai gaya hidup yang berhubungan dengan dunia transportasi. Zaman dulu angkutan boleh dibilang masih menjadi primadona sarana bepergian dari suatu tempat ke tempat lain. Tidak heran manusia lebih condong memilih fasilitas yang tidak memerlukan biaya mahal baik operasional maupun maintenance. Seiring kemajuan gaya hidup manusia terus menyempurnakan dirinya menjadi manusia yang serba cepat, serba bias, serba segalanya. Untuk memenuhi itu semua secara otomatis banyak aspek pendukung yang harus dipenuhi. Struktur maupun infrastruktur semua dikembangkan demi memenuhi kebutuhan itu semua. Tidak sebatas masyarakat tingkat ekonomi menengah keatas, kalangan menengah kebawah pun tidak mau ketinggalan.

Kemampuan finansial individu yang beragam, menciptakan pola pemenuhan kebutuhan hidup yang beragam pula. Hal ini tentu yang paling nyata terlihat dari bagaimana cara mereka bergaya. Apakah itu cara mereka mengekspresikan gaya berpakaian, berkendara, dan lain sebagainya. Kemajuan tingkat gaya hidup yang tidak terkendali menyebabkan sebagian manusia mengalami kekacauan kepribadian. Dimana dirinya terbebani untuk terus selalu memenuhi tuntutan zaman. Sehingga hilangnya identitas diri menjadi sesuatu hal yang sudah tidak diperdulikan lagi. Hal ini menyebabkan tidak adanya kekhawatiran hilangnya identitas diri, malahan cenderung manusia lebih takut dianggap hilang dari pergaulan, dari dunia trend, dunia gaya, disana aku bergaya disana aku ada, begitu katanya. Untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya, banyak ragam cara dilakukan manusia, dari mulai yang baik sampai cara paling banal dilakukan.

Begitulah warna kehidupan modern, tidak pernah puas, bergerak sangat cepat, terus silih berganti dengan waktu sangat singkat, begitu hiruk pikuk. Terserah kita mau menempatkan diri kita di posisi mana. Yang jelas tidak ada aturan main untuk bergerak hidup selain keyakinannya masing-masing. Mati ketika berlari menuju sesuatu yang tidak ada isinya sepertinya sangat disayangkan, tapi melepas nyawa ketika kita bertafakur tentang rencana yang sarat nilai tentunya lebih mulia. Apapun kehendak kita itulah pilihan kita tentunya……………..

Posted at di 7:19 PM on Monday, November 26, 2007 by Diposting oleh Heri Sandi | 0 komentar   | Filed under:

Catatan Angkot_02

Setiap pagi kulangkahkan kaki ini menuju tempat mengais rezeki, untuk meneruskan kehidupan. Seperti biasa aku menaiki kendaraan andalan yaitu tentu saja angkutan kota. Hampir setiap pagi pula mata ini melihat pemandangan yang itu-itu saja. Lalu lintas Macet, manusia yang semerawut, tata ruang kota yang tak beraturan. Semakin hari pemandangan itu semakin aktual, dan semakin menjadi.

Tengok saja pasar pagi yang sudah menyita separuh jalan umum yang nyata sibuk aktivitasnya. Selain terampas sebagaian bahunya, ditambah aksesoris sampah yang tidak terkendali setiap pagi. Tentu saja ini menambah beban tugas pak Ikhlas yang selalu menyapu membersihkannya. Sebuah penomena yang sepertinya tak habis-habis untuk diwacanakan, dan tak pernah terselesaikan. Rencana pembenahan, malah menjadi semacam momok yang menakutkan bagi pelaku kesemerawutan. Para ponggawa pelaku kebijakan juga dihantui hal yang tidak terlalu jauh berbeda. Pengalaman menjadi sebuah catatan yang tak mudah untuk dilupakan. Aksi demo yang menyebabkan bentrok fisik dan kekerasan, ketakutan bangkrut kemudian tidak makan, atau ketakutan turun tahta karena tidak mampu menyelesaikan persoalan yang sudah kadong dibuat point selling kampanye. Semua persoalan menyatu dalam setiap pribadi pelaku.

Setiap warga negara berhak menentukan nasib hidupnya masing-masing tanpa harus merasa dibatasi hak dasarnya sebagai manusia. Begitupun pemerintah sebagai lembaga yang menaungi seluruh warganya punya kebijakan yang mewakili seluruh warga, demi sebuah nilai kebaikan yang bisa dirasakan bersama tanpa memandang apapun. Kesemuanya memerlukan saling pengertian tentunya. Lawong saya yakin ko semuanya menuju nilai terbaik.

Tapi kenapa yah kok yang namanya kesepakatan bersama itu sulit sekali dicapai. Padahal tiap individu sendiri meyakini akan kebaikan yang akan dirasakan bersama. Sehingga untuk mengambil sebuah kebijakan dan merealisasikannya terkadang harus menelan korban. Korban psikologis, fisik, dan sebagainya, seolah menjadi semacam keharusan. Seandainya semua fihak mengerti dan mau merealisasikan apa yang dinamakan toleransi, kayaknya tidak perlu ada korban lagi.

Toh yang namanya bermusyawarah, bukan berarti menyamakan pendapat, lebih ke masalah bagaimana menghargai pendapat orang lain, dan mengambil keputusan yang menjadi kesepakatan bersama. Namun memang tugas yang sangat berat untuk meyakinkan hal itu. Ditambah masalah tingkat pendidikan mereka, keadaan ekonomi, dan lingkungan sosial dimana mereka hidup. Pendidikan masa memang harus terus digencarkan tanpa kenal lelah.

Kesadaran akan arti sebuah kesepakatan menjadi sebuah keadaan yang harus dibayar sangat mahal. Akibat hal ini, cenderung sebuah masalah hanyalah tinggal masalah yang tidak pernah terselesaikan. Keadaan yang tetap tidak pernah berubah adalah efek dari semuanya. Egosentrisme tiap individu itulah biang keroknya………

Posted at di 2:22 AM on Thursday, November 22, 2007 by Diposting oleh Heri Sandi | 0 komentar   | Filed under:

Catatan Angkot_01

Katanya naik angkutan umum itu sangat merepotkan, apalagi dengan
masyarakat yang terbiasa dengan fasilitas pribadi. Mobil pribadi,
sopir pribadi, bahkan jalan juga bila perlu pribadi (sewa Patwal).
Tapi orang seperti saya sebagai pengguna fasilitas angkutan umum,
naik angkutan umum menjadi berkah tersendiri. Malahan mungkin kalau
tidak naik angkutan umum saya bisa jadi menjadi tidak se-dewasa,
atau se-sensitif, atau mungkin se-cerdas, seperti halnya sekarang.
Bisa jadi tidak dewasa, selalu bodoh, dan tidak peduli terhadap
keadaan sekitar.
Suatu saat untuk mengusir kejenuhan kadang-kadang menyempatkan diri
menaiki bis kota dari terminal pemberangkatan sampai pemberhentian
terakhir. Dalam perjalanan biasanya sangat kaya dengan pengalaman.
Walaupun mungkin rutenya tidak sejauh dari Sabang menuju Merauke.
Ketika di perjalanan kita tentu harus berdesakan dengan berbagai
macam orang berbeda, baik latar belakang pendidikan, usia, budaya,
status sosial, dan lain sebagainya. Kita akan mencium bau dari
mulai parfum kelas menengah, hingga bau badan yang minta ampun.
Begitu hiruk pikuk, begitu tidak ada batas posisi dimana org mampu
dan tidak mampu. Semua menyatu dalam satu benda yaitu angkutan
umum, yang kurang begitu nyaman, tidak private, dan sulit tepat
waktu.Setiap penumpang ingin memperlihatkan sikap "Saya" nya. Gue
wanita karier nih, gue mahasiswa nih, saya pedagang nih, saya
pengajar nih, gue preman nih, gue sendiri apa yah?
Seperti halnya kehidupan, suasana dalam angkutan juga tidak terlalu
jauh berbeda. Masing-masing orang ingin berperan seperti dirinya.
Dia tidak mau orang lain salah menafsirkan atas dirinya. Tidak
heran ada yang berkostum abis-abisan dengan mini skirt, karena dia
seorang Sales Promotion Girl untuk salah satu produk terkenal. Ada
yang dandan compang-camping dengan levi's belel berlubang karena
dia seorang mahasiswa seni. Bahkan ada mempercantik tampilan
machonya dengan tato, dan piercing, dan sayatan pisau bekas
menikmati narkoba, karena dia ingin disebut preman, anak gaul dan
sebagainya.
Apapun tampilannya yang jelas merupakan ekspresi diri, bukan
ekspresi orang lain. Ada hal yang menarik, ketika orang berekspresi
habis-habisan ada satu hal yang menggambarkan ketidak percayaan
terhadap dirinya sendiri. Seolah orang lain selalu salah menilai
dirinya. Sehingga ada semacam pemaksaan, bahwa persepsi kamu dengan
saya, apapun alasannya harus sama. Mungkin seperti itulah
kecenderungan sikap manusia sekarang. Sehingga nilai toleransi
sebagai makhluk sosial sangat miskin sekali. Ini terlihat hanya
untuk memperlihatkan kejantanannya sebagai preman sulit untuk
bergeser tempat duduk, sekedar mempermudah orang lain untuk
duduk....
Emh...sepertinya dengan melihat penomena diatas, tidak ada alasan
untuk mengatakan bahwa naik angkutan umum kurang bermanfaat. Dengan
hanya sekali jalan saja kita bisa banyak belajar, bagaimana
merealisasikan segala kemampuan kita dengan beragam istilah yang
mudah untuk dikatakan namun sulit untuk dilaksanakan. Seperti
toleransi sebagai contohnya......

Posted at di 11:12 PM on Wednesday, November 21, 2007 by Diposting oleh Heri Sandi | 0 komentar   | Filed under: